Pages

Ads 468x60px

Monday, October 31, 2011

RIDHA





























“ Tak ada pakasaan untuk (memasuki) agama (islam), sesungguhnya telah jelas jalasn yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Alloh, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Alloh Maha mendengar lagi Maha Mengetahui ” (Q.S. Al-Baqarah, 2: 256).

Maka, kalau ada sekelompok manusia jahil yang karena kebodohannya tidak dapat melihat cahaya islam, manusia yang di dalam hatinya tumbuh penyakit dan bersikap memusuhi islam, memusuhi diennullah, yang berkata bahwa kebenaran islam ditegakkan hanyalah dengan pedang. Lalu menyebarkan perkataan mereka dengan suara parau dan riuh rendah, maka jawabnya tidak diperoleh dengan memeras banyak pikiran. Jawabnya sudah tersedia, yaitu hujjah yang dating dari Alloh yang Maha Tahu akan munculnya manusia sejenis itu dapat ditemui. Jawabannya telah dipersiapkan Alloh, jawaban yang tuntas, teramg dan tak meragukan bagi hati yang bersih.

“ Tak ada paksaan dalam urusan dien ini “

Tak ada paksaan untuk beriman atau tidak kepada Alloh. Alloh tidak membutukan keimanan manusia, apalagi kaimanan kaum munafik yang hanya beriman sebatas kata-kata. Keimanan seluruh penduduk bumi atau kekafiran mereka seluruhnya tak berpengaruh sedikitpun bagi eksistensi Alloh yang Berdiri Sendiri. Alloh tidak memerlukan keimanan manusia dan bersyarat kepadanya.
Tak ada paksaan untuk memasuki islam. Tak ada paksaan untuk mengimani Alloh atau mengingkari-Nya karena keimanan dan memilih mengikuti jalan hidup ini hanyalah untuk kebaikan manusia itu sendiri, ubtuk keselamatan mereka. Tidak ada untung atau rugi bagi Alloh akan sikap manusia, sikap apapun yang mereka tampilkan.

“ Barang siapa yang ingin beriman, maka berimanlah. Dan barang siapa yang ingin kufur, maka kufurlah “ (Q.S. Al-Kahfi, 18:29).

Tak ada paksaan dalam urusan dien ini. Tak ada paksaan untuk menerima atau menolak yang haq karena telah jelas antara yang haq dan dengan yang bathil. Telah jelas perbedaan antara jalan yang benar dengan jalan yang salah. Kejelasan ini adalah jelas bagi hati manusia, baik mereka akui atau mereka sembunyikan. Kebenaran adalah benar meski dinyatakan atau tidak, karena kebenara dapat menyatakan diri sendiri. Kebenaran tetap benar adanya meski sejuta orang menolaknya dan hanya satu orang ynag menerima. Kebenaran adalah benar tidak memandang didukung oleh minoritas atau mayoritas. Tidak berpengaruh kepada jumlah manusia yang menyuarakannya karena kebenaran adalah kebenaran. Sesuatu yang secara fitrah dimiliki manusia. Sesuatu yang memang telah ada sejak manusia pertama kali tercipta, dank arena manusia adalah makhluk hanif yang sejak semula beriman kepada Alloh.

“ Dan ingatlah tatkala Robb-mu mengeluarkan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Alloh mengambil persaksian terhadap jiwa mereka, ‘Bukankah Aku ini Robb-mu?’, mereka menjawab, ‘ya, kami bersaksi’ “ (Q.S. Al-‘Araf, 7:172).

Tak ada paksaan dalam urusan dien ini karena telah jelas kebenaran jalan hidup ini. Dan kebenaran itu akan membawa kebaikan bagi manusia. Sama sekali tak ada paksaan yang ada hanya kerelaan, suka hati dan penerimaan dengan perasaan senang, suatu keridhaan. Sambutan semarak atas ajakan yang menyelamatan. Sambutan hangat atas anugerah kebaikan. Inilah islam, dien yang mengagumkan.
Ridha, hanya ini warna tunggal penerimaan seorang muslim atas nikmat iman dan islam. Suatu perasaan yang bersumber pada rasa syukur dan menggumpal dalam bahagia. Ridha karena Alloh hanyalah meridhai dien ini dank arena telah diridhai-Nya pula dien ini untuk ditapaki kita, umat pilihan.

“ Alloh ridha terhapa mereka dan merekapun ridha terhadap-Nya. Yang demikian itu adalah balasan bagi orang-orang yang takut kepada tuhannya “ (Q.S. Al-Bayyinah, 98:8).

Inilah sikap seorang muslim haqqa, menerima dengan ridha apa yang telah diridhai Tuhannya. Sikap seorang muslim yang berakhlak mulia.

HAQ FITRI MANUSIA


Hak-hak fitrah manusia sebagaimana dirumuskan para fuqoha meliputi lima hal, yaitu:

1.Dien
2.Jiwa
3.Akal
4.Harga diri
5.Cinta

Secara fitri, manusia seperti juga makhluk-makhluk Alloh lainnya adalah dalam keadaan Islam, tunduk patuh pada aturan Khalik Rabbul’alamin. Jiwa yang bersih dan suci manusia berhak akan dienullah. Jiwa yang bersih dan suci condong pada kebenaran, hanif. Karenanya petunjuk tentang kebenaran, jalan yang lurus merupakan hak fitri manusia. Dalam jalan ini saja manusia akan sampai pada tujuannya (ridha Alloh). Karena tidaklah diciptakan manusia kecuali untuk menjadi hamba Alloh di bumi. Menjadi khlaifah, membesarkan dan menegakkan kalimat Alloh di bumi untuk beribadah. Hanya dalam jalan ini saja manusia akan dapat memainkan peran sebagaimana yang telah digariskan olah Khaliknya, Rabb manusia. Hanya dalam jalan ini saja manusia akan selamat dan mendapat kemenangan. Karenanya, manusia mempunyai hak akan jalan ini, dien ini, dan hak ini datang dari Penciptanya.

Tanpa dien, manusia akan kacau, tak terarah dan akan jatuh pada tingkat se-kualitas hewan. Tanpa dien, manusia akan saling menghambakan diri, saling meguasai. Karenanya, dien adalah hak fitri yang mesti ditegakkan dalam diri manusia, baik sebagai makhluk pribadi maupun makhluk social. Dan pembangunan tidak lain dari upaya menyiapkan apa-apa yang mesti disiapkan untuk menegakkan dienullah dalam kalbu manusia, untuk memberikan hak fitri manusia akan dien. Lengkapnya, pembangunan adalah proses menegakkan, menyuburkan, memelihara, dan mempertahankan dienullah, fitrah utama manusia dalam gelora kalbu insan.

Secara fitri, manusia berhak akan jiwa. Karenanya sangat besar dosa seorang muslim yang menumpahkan darah saudaranya. Tanpa jiwa, manusia tidak lagi berwujud manusia. Untuk memenuhi hak sekaligus kewajiban menjadi khalifah di bumi. Agar dapat mengabdi kepada Rabb untuk menegakkan risalah islam dalam dada manusia serta melaksanakan tindakan lain sebagai makhluk Alloh. Maka secara fitri, jiwa atau ruh adalah prasyarat dan hak bagi manusia. Jiwa demikian berharga bagi manusia dan menempati berharga ketimbang hidup dalam kekafiran tanpa dien. Dengan demikian, maka pembangunan mestilah memelihara, melindungi, dan mempertahankan agar jiwa ini tetap pekat dengan dienullah.

Secara fitri, manusia berhak akan akal. Tanpa akal, manusia tak akan lebih baik dari robot. Untuk dapat mengatasi berbagai persoalan sehubungan dengan pengabdian kepada Alloh, sehubungan dengan penegakan kalimah tauhid, dalam rangka pengibaran bendera Alloh di bumi, maka akal adalah alat, hak dan karunia Alloh yang besar bagi manusia. Dienullah sendiri adalah perintah dan petunjuk bagi manusia yang berakal. Hanya manusia yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran dari penciptaan langit dan bumi. Hanya orang –orang yang berakal saja yang akan mengetahui bahwa Islam adalah jalan hidup yang benar dan membawa keselamatan, sementara ajaran lain akan membawa penyesalan. Karenanya Islam menentang perusakan akal melalui alcohol dan narkotika. Islam pun menentang pendewaan akal, rasionalisme yang melecehkan dienullah. Islam pun menentang perusakan akal dalam makna intelektual, melalui pengembangan konsep-konsep yang bertentangan dan menentang dienullah.
Dengan demikian, pembangunan mestilah memelihara, melindungi, dan mempertahankan akal manusia sehingga kualitas ibadah/penghambaan dapat dipertahankan atau ditingkatkan. Pembangunan mestilah memberikan ilmu yang haq (al-qur’an) pada akal, dan hanya mengisi akal dengan ilmu yang shahih. Pembangunan mesti mengisi, melatih, dan memelihara akal manusia agar hasilnya adalah fikrah yang Islami. Pikiran yang membela Islam, membesarkan Islam bukan sebaliknya. Pembangunan yang demikian akan menangkal rembesan konsep-konsep thagut masuk ke dalam jiwa manusia muslim. Maka akal manusia akan optimal dalam pengabdian dan perjuangan di jalan Rabbnya.

Manusia secara fitri berhak akan keturunan yang baik. Keturunan yang shaleh akan membawa izzah (kebanggaan), harga diri. Karenanya pembangunan mestilah melindungi dan memelihara keturunan manusia sehingga regenerasi dapat berjalan dalam kebaikan atau malah meningkat. Pembangunan mesti menembus dimensi waktu, dan memperhatikan masa depan manusia melalui keturunannya. Karena melalui penerusan pada keturunan, dienullah dapat bersambung dan terpelihara. Bila tidak, maka Islam hanya akan jaya dalam satu periode saja, dienullah hanya berperan dalam satu masa saja, padahal Islam menembus dimensi waktu. Dan penghambaan kepada Rabb tidak berhenti sampai waktu yang ditetapkan oleh Rabb saja.

Seperti juga hak akan akal, manusia pun secara fitri berhak akan cinta; cinta kepada anak, istri, persaudaraan, materi. Alloh menumbuhkan rasa cinta ini dalam jiwa manusia. Melalui rasa cinta, setiap hubungan dapat berjalan dengan harmonis dan mesra, kewajiban pun dengan ringan dapat dilaksanakan. Cinta akan Alloh dan cinta akan jihad fii sabilillah sudah pasti tentu melandasi rasa cinta manusia. Dengan demikian, maka pembangunan pada hakikatnya adalah memelihara, memupuk, dan membentengi cinta dalam kalbu pelaksanaan tugas-tugas penghambaan kepada Alloh. Sehingg rasa cinta ini menempati posisi yang tepat.

Sampai di sini terlihat betapa Islam berbeda dalam menanggapi isu pembangunan. Karena Islam mempunyai konsep tersendiri, yakni pembangunan manusia, penegakkan fitrah manusiawi. Dengan demikian parameter untuk menilai keberhasilan pembangunan dalam Islam pun akan berbeda. Masalahnya adalah bagaimana mewujudkan semua ini. Kalau barat melirik Islam, kita tidak perlu percaya bahwa mereka akan menjadikan Islam sebagai konteks apalagi berbangga diri. Karena jelas Islam menganjurkan curiga dan berburuk sangka terhadap kaum yang kafir, Alloh Maha Tahu rahasia hati mereka. Penegakan Islam di bumi tidak mungkin diserahkan kepada Barat, tapi pada diri kita sendiri, pada umat sendiri. Selama kita masih mengambil konsep-konsep yang bukan khas diri, di luar jati diri, apalagi dengan hanya menjadikan Islam sebagai etika untuk kepentingan pembangunan umat, maka pembangunan itu hanyalah akan menjauhkan umat dari tujuannya: mencari ridha Alloh. Bukan hanya membawa keselamatan, namun membawa kemudharatan. Pembangunan bagi Islam hanyalah pembangunan manusia, pembangunan umat menegakkan khalifah Alloh di bumi. Menegakkan fitrah manusia dengan cara yang dicontohkan tauhid uswah, Rasululloh Muhammad SAW.

PEMBAHASAN : H.O.S COKROAMINOTO


A. Biografi

H.O.S Cokroaminoto adalah anak kedua dari 12 bersaudara. Ayahnya bernama R.M. Tjokroamiseno, salah seorang pejabat pemerintahan pada saat itu. Kakeknya, R.M. Adipati Tjokronegoro, pernah juga menjabat sebagai bupati Ponorogo.
H.O.S Cokroaminoto, dilahirkan didesa Bakur, daerah Madiun pada tanggal, 20 Mei 1883. Tepat pada waktu Gunung Krakatau meletus. Tamat sekolah rendah ia meneruskan pelajarannya ke OSVIA Magelang, tamat pada tahun 1902 dan menjadi juru tulis sampai 1095. Antara tahun 1907 – 1910 bekerja pada Firma Coy & CO di Surabaya, disamping meneruskan pada Burgelijek Avondschool bagian mesin. Bekerja sebagai masinis pembantu, kemudian ditempatkan dibagian kimia pada pabrik gula di kota tersebut (1911–1912).
H.O.S Cokroaminoto buyutnya adalah seorang ulama terkenal di Ponorogo dan memiliki pesantren di daerah tegalsari, Beliau terlahir di keluarga priyayi yang religius, beliau sejak kecil diasuh dalam keluarga yang mendapatkan pendidikan Islam, dan menempuh pendidikan dasarnya di belanda. Setelah 5 tahun menempuh pendidikan kepegawaian, beliau menjadi juru tulis di kepatihan ngawi, dan iini hanya bertahan 3 tahun (1902-1905) karena dia merasa tidak cocok dengan pekerjaan pegawai negeri yang terus menerus harus merendah di hadapan orang belanda. Kemudian pergi ke Surabaya dan bekerja di salah satu perusahaan swasta yang bernama firma COY dan CO.selain bekerja beliau juga ikut kursus permesinan di malam hari dan setelah tamat dari kursus ini beliau pindah kerja jadi juru mesin dan kemudian tahun 1907-1912 menjadi ahli kimia di pabrik gula Rogojambi surabaya.
Sebagai seorang anak priyai, beliau dijodohkan oleh orang tuanya dengan soeharsiken, putri seorang patih wakil bupati Ponorogo yang bernama mangoensoemo. Di rumahnya bersama istrinya beliau menerima kos kosan yang dikelola oleh istrinya dan salah satu anak kosnya adalah soekarno.

B. Perjuangan

Tepat hari ini lebih dari dua abad yang lalu, tepatnya pada tahun 1882, Haji Oemar Said Cokroaminoto lahir sebagai bakal tokoh pergerakan yang pada akhirnya dikenal sebagai pendiri Sarikat Islam, sebuah organisasi pergerakan yang berteguh prinsip pada kebangsaan dan agama. HOS Cokroaminoto sohor dengan kata mutiaranya yang sangat menginspirasi, “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat.”
Kalimat mutiara singkat itu pulalah yang berubah menjadi obat jiwa pergerakan pemuda saat itu, tidak terkecuali tiga murid beliau yang saling berbeda aliran dan akhirnya menjadi legenda pergerakan nasional: Soekarno yang nasionalis, Semaun yang Sosialis/komunis, dan Kartosoewirjo yang agamis.
Kata mutiara itu menggambarkan suasana perjuangan Indonesia yang saat itu membutuhkan tiga jiwa dan kemampuan pada diri seseorang untuk mempertahankan dan membangun negaranya Indonesia.

HOS Cokroaminoto tergabung pada SI pada bulan mei 1912 atas ajakan dari H. Samanhudi untuk memperkuat organisasi tersebut nama HOS Cokroaminoto terkenal setelah dia sukses menyelenggarakan kongres SI pertama di surabaya pada tgl 26 januari 1913. Dalam sebuah pertemuan di Yogyakarta pada tgl 18 Februari 1914, SI membentuk suatu pengurus pusat di mana HOS Cokroaminoto duduk sebagai ketua dan H. Samanhudi sebagai ketua kehormatan. Mulai tahun 1916, partai ini sudah menggunakan istilah nasional dalam kongres-kongres yang diadakannya. Beliau segera mengembangkan SI sebagai sebuah gerakan politik terbesar di Indonesia dengan menegakkan cita-cita nasionalisme dan Islam sebagai sebuah ajaran dasar pemikiran.
Pada kongres nasional pertama tahun 1916 di bandung, SI telah berani mengajukan tuntutan Indoneia merdeka yang merupakan inti aspirasi masyarakat Indonesia. Dalam kongres tersebut beliau berkata bahwa bangsa Indonesia mempunyai hak untuk berpastisipasi dalam hal politik. Beliau juga menuntut agar bangsa Indonesia juga ikut andil dalam memutuskan berbagai undang-undang dan peraturan yang dibuat oleh pemerintah. Selanjutnya pada kongres kedua tahun 1917 SI menyampaikan tuntutan untuk peningkatan pertanian, peningkatan subsisidi, dan perluasan hak pilih warga Indonesia. Kongres tersebut juga memutuskan bahwa SI akan duduk dalam Volkstraad (dewan rakyat)dengan tujuan akan terus berusaha untuk memperjuangkan mengubah Volkstraad menjadi parlemen sejati.
Pada tanggal 18 mei 1918 cokroaminoto dan Moeis duduk sebagai dewan mewakili SI. Mereka menempatkan dirinya oposisi. Sepak terjang Cokroaminoto dan Moeis menyebabkan pemerintahan belanda menjadi gerah. Ketika terjadi beerbagai pemberontakan di tanah air kedua tokoh tersebut kemudian oleh pemerintah dianggap terlibat. Pada tahun 1920, Cokroaminoto dipenjarakan selama 8 bulan dan saat itu pula SI sebagai gerakan nasional mulai melemah.

C. Pemikiran

a. Pemikiran keagamaan
seperti halnya ahmad hasan dann para pembaharu lainya, cokroaminoto sangat menekan pentingya pemahaman tauhid secara benar. Keperibadian yang tangguh, bebas dan dari rasa takut dan sedih akan diperoleh umat islam jika berpegang pada tauhid yang benar. Selain itu, beliau juga menganjurkan agar umat islam tidak hanya berdebat dalam permasalahan furuq (cabag) saja, tetapi harus berkiprah dalam persoalan yanng lebih besar yang sedang di hadappi umat islam.
Menurutnya, sebegai agama yang rasional, modern dan memiliki landasan tauhid yang benar, maka penguasaan atas ilmu pengetahuan harus digalakan, disamping menanamkan rasa keislaman yang mendalam dan memberikan penghargaan terhadap tanda-tanda kebesaran tradisi islam.
b. Pemikiran politik
dalam bidang politik, cokroaminoto mempunyai pemikiran tentang negara demokrasi melalui perwakilan parlemen untuk memilih orang-orang yang memegang kekuasaan yang bebas dari penjajahan.

Agama islam merupakan alat yang tepat untuk membangun persatuan dan rasa nasionalisme di indonesia. Adapun Visi politik cokroaminoto adalah membentuk sosalialisme islam di mana bangunan ekonomi, sosialistik menjadi dasar kebijakannya tanpa ada monopoli, riba, dan eksploitasi. Beliau mencita-citakan bangunan masyarakat yang berdasarkan persaudaraan, kemerdekaan dan persamaan namun tetap relijius dan cinta tanah air.
Pemikiran cokrominoto bisa kita temukan yaitu;
a. Islam dan sosialisme
b. Tarih agama Islam riwayat dan pemandangan atas kehidupan dan perjalana Muhammad SAW
c. Program asas dan progran tandimpartai serikat islam indponesia
d. Reglement umum bagi umat Islam Indonesia

Friday, April 20, 2007

Ayah! kenapa engkau tidak pergi berjihad?


Seorang anak perempuan yang masih kecil berumur sekitar tujuh tahun datang kepada ayahnya, dia menanyakan suatu pertanyaan: "Wahai ayah kenapa engkau tidak pergi berjihad?" Ayah anak perempuan kecil ini terheran dengan pertanyaan itu, dan ia ingin mengujinya, maka dia bertanya: "Nak! Jika aku pergi untuk berjihad, bisa jadi ayah nanti akan terbunuh, dan kamu nanti jadinya tidak punya bapak seperti anak-anak lainnya". Maka mujahidah kecil itu menjawab: "Jika engkau terbunuh maka itu yang utama, karena engkau akan menjadi seorang syuhada' dan masuk jannah dan kita akan masuk jannah bersama-sama".

Inilah iman yang kuat dan fitroh yang bersih serta bentuk pelaksanaan perintah Alloh SWT yang telah tertanam di dalam diri dan sikap anak perempuan kecil itu, dia itulah yang kita butuhkan hari ini di dalam mendidik anak-anak laki-laki dan perempuan kita, kita ingin mendidik mereka dengan tarbiyah iman dan jihad.

Maka kita mulai dengan menanamkan aqidah yang benar, yang tidak ada penyakit-penyakit dan tidak ada penyelewengan dari orang-orang yang bersikap toleran dan kaum munafik. Serta mengajari mereka agama yang benar sebagaimana yang telah dibawa oleh Nabi SAW dan salaf sholeh kita, kemudian kita menanamkan pada diri mereka bahwa mereka adalah bagian dari kesatuan umat Islam ini, dan bahwa mereka adalah harapan umat ini setelah Alloh di dalam menyelamatkan dan mengangkat umat dari cengkeraman cakar-cakar kehinaan dan kenistaan serta menyatakan permusuhan secara terang-terangan terhadap umat-umat kafir di muka bumi pada zaman ini. Dan diharapkan mereka dapat mengembalikan kemuliaan dan kekuatan serta puncak kejayaan umat Islam pada zaman ini.

Penting juga kita mempersiapkan mereka baik fisik maupun mental, sehingga mereka harus dilatih tentang cara memanggul senjata, berani, dan bertempur mati-matian di medan perang serta mencari kesyahidan di jalan Alloh dan bahwa semua itu adalah sebagai bentuk mendekatkan diri dan ketaatan kepada Alloh yang paling utama, yang dia beribadah kepada Alloh dengannya.

Kita ingin menghantarkan mereka hingga sampai pada tahapan dimana dia menyerap seluruh makna-makna kemuliaan dan jihad sehingga hiduplah salah satu dari mereka menjadi seorang yang mulia, mujahid, bangga dengan agamanya, pembela umatnya, bahkan dia bangga bahwa dia adalah seorang mujahid yang dapat menjadi pengganjal di leher-leher orang-orang kafir dan munafik.

Kita memohon kepada Alloh untuk memberikan kebaikan kepada anak-anak kita, dan menjadikan kita dan mereka termasuk dari para mujahid di jalan Alloh dan memberikan rizki kepada kita dan mereka dengan kesyahidan serta mengumpulkan kita di Firdausil A'la

Menolak Thaghut Adalah Kewajiban Pertama Dalam Islam


Kewajiban pertama atas setiap Muslim adalah Tauhid (beribadah kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya); dan pilar pertama Tauhid adalah Al Kufur Bit Thoghut, atau menolak Thoghut. Seseorang tidak bisa menjadi Muslim kecuali mereka menolak semua bentuk Thoghut, apakah itu berbentuk konsep, benda tertentu atau seseorang.
Thoghut telah di defenisikan oleh Shahabat dan Ulama klasik yang mengikuti jalan salaf yaitu:

"Sesuatu yang disembah, ditaati atau diikuti selain dari Allah."

Imam Malik bin Anas berkata:
"Thoghut adalah segala sesuatu yang disembah (atau ditaati) selain Allah."

Diriwayatkan dalam Al Jaami' li Ahkaam Al Qur'an oleh Imam Al Qurtubi) Syeikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab berkata:

"Dan thoghut secara umum, adalah sesuatu yang disembah selain Allah, dan itu disetujui untuk disembah, diikuti atau ditaati." (Risalatun fii Ma'naa At Thoghut oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab)

Lebih lanjut, karena sebuah objek diperlakukan sebagai thoghut seharusnya disembah selain Allah, dan bagi seseorang yang menjadi thoghut dia harus setuju untuk disembah atau ditaati. Sebagai contoh towaghit adalah berhala, batu, pohon, tempat keramat, patung, kuburan atau jimat dan sebagainya yang orang-orang sembah atau mencari pertolongan darinya; keinginan, filosofi, hukum, konstitusi, selebritis, atau Nabi palsu yang orang-orang ikuti; dan penguasa, Ulama serta pembuat hukum (anggota parlemen) yang melegalkan hukum mereka sendiri dan mengadili dengan hukum dan konstitusi buatan manusia.

Seseorang bisa menghabiskan seluruh hidupnya untuk shalat atau berbicara tentang Islam, Jihad, Haji, shalat, Dakwah, Qur’an, Sunnah, Siyaam dan seterusnya, tetapi jika mereka tidak menolak thoghut dan mengingkari thoghut semua itu akan lenyap. Ini karena menolak thoghut adalah syarat pertama menjadi seorang Muslim, dan mengapa alasannya hal itu meliputi dalam bagian pertama pada Kalimah:

Laa ilaaha "tidak ada tuhan" (An Nafii – menolak thoghut dan Tuhan-tuhan palsu).

IllAllah "kecuali Allah" (Al ithbaat – penetapan keimanan)

Selanjutnya, dengan melafadzkan dan mempercayai kalimah itu seseorang benar-benar mendeklarasikan ketidakpercayaannya dan menolak tuhan-tuhan palsu dan menetapkan keimanan kemudian menerima Satu, Tuhan yang benar – Allah. Tidak mungkin bagi seseorang menjadi Muslim kecuali mereka mengkufuri semua tuhan-tuhan palsu dan agama batil.

Kunci untuk memahami Kalimah

Allah SWT berfirman:
"barangsiapa yang ingkar kepada Thoghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus (kalimah)." (QS Al Baqarah, 2: 256)

Memahami maksud Kalimah adalah kondisi pertama Tauhid dan sebuah kewajiban atas setiap Muslim. Allah SWT menginformasikan kepada kita dalan ayat di atas bahwa hanya seseorang yang menolak thoghut dan beriman kepada Allah yang telah memahami maksudnya, dan selanjutnya akan menerima keberhasilan di akhirat. Rasulullah SAW bersabda:

"Seseorang yang mati dan memahami (makna) laa ilaaha illallah akan masuk surga." (Shahih Muslim, Jilid 1, bab 10 Hadits no. 26)

Selanjutnya, rahasia untuk memahami Kalimah adalah dengan menolak thoghut. Karena alasan ini, sangat penting bagi kita untuk mempelajari cara menolak thoghut – itu jika kita ingin mempunyai pemahaman yang benar tentang Laa ilaaha illAllah.

1. Mendeklarasikan Thoghut Adalah Batil
Cara pertama untuk menolak Thoghut dengan meyakini bahwa semua Thoghut adalah batil dan tidak berhak untuk disembah atau ditaati. Sebagian orang mungkin tidak menyembah thoghut, tetapi mereka tidak meyakini bahwa thoghut mutlak batil. Ini adalah kekufuran. Sebagai seorang Muslim perlu meyakini bahwa Islam adalah satu-satunya kebenaran dan semua agama yang lain itu batil, dan bahwa Allah adalah satu-satunya Illaah yang benar dan semua aalihah yang lain itu batil. Allah berfirman:
(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar." (QS Al Hajj, 22: 62)

2. Menjauh dari Thoghut
Allah SWT mengutus seorang Rasul kepada setiap komunitas dengan risalah yang sama: beribadah dan hanya menaati Allah, dan menjauh dari Thoghut:

"Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thoghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya . Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS An Nahl, 16: 36)

Perintah untuk "ijtanibuu" (menjauhi) mempunyai implikasi yang lebih besar daripada mengatakan 'tidak menyembah (atau mendukung)'. Ini karena dalam Ushul Fiqih, sebuah perintah untuk ijtanaab (menjauhi) adalah lebih berat daripada sebuah larangan untuk tidak melakukan. Sebagai contoh Allah SWT memerintahkan kita untuk menjauhi khamr (alkohol); jika mendekati alkohol itu terlarang, memegang sebotol bir adalah lebih terlarang, apalagi meminumnya. Sama halnya, Allah telah memerintahkan kita untuk menjauh dari thoghut, terlebih lagi menjadi asisten mereka, sekutu, menteri, atau mufti atau bahkan bergabung dengan polisi, tentara atau pemerintah mereka.

Faktanya adalah kufur untuk beribadah, melayani, menaati atau mengikuti thoghut manapun, dan siapa saja yang melakukan demikian akan menjadi murtad. Menyembah thoghut (dengan menaatinya) juga salah satu karekteristik Yahudi dan Nasrani, mereka mengambil rahib-rahib dan para pendeta mereka sebagai Tuhan selain Allah dengan menaati mereka pada saat para pendeta dan juga rahib secara terang-terangan merubah dan melawan wahyu yang telah diturunkan oleh Allah SWT kepada mereka. Allah SWT berfirman:

"Katakanlah: "Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thoghut?." Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus." (QS Al Ma’idah, 5: 60)

'Umar Bin Khattab berkata:

"Thoghut adalah Syaitan."

Karena setiap thoghut adalah Syaitan, kita harus selalu ingat dalam pikiran kita bahwa adalah sebuah ke-murtad-an beribadah, menaati atau melayani thoghut.

Setiap penguasa atau Ulama yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah adalah Thoghut dan Syaitan; selanjutnya, adalah sebuah ke-murtad-an menolong mereka, bergabung dengan barisan mereka, mempertahankan mereka atau berperang untuk mereka. Sungguh, hanya kuffar dan Munafiqin yang menolong dan berperang untuk Thoghut:

"Dan sungguh jika kamu beroleh karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah dia mengatakan seolah-oleh belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan dia: "Wahai kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar (pula)." (QS An Nisaa’, 4: 73)

Jika seorang Ulama menjadi Thoghut (dengan menghalalkan apa yang Allah haramkan, sebagai contoh) kita harus menjauh darinya, tidak belajar dengannya atau hadir dalam ceramahnya. Dengan berbuat demikian seseorang benar-benar beribadah kepada Allah dengan memenuhi perintahNya dan manjauh dari thoghut.

3. Menunjukkan kebencian kepada Thoghut
Setiap orang beriman harus mendeklarasikan kepada semua towaaghit kepada musuh-musuh mereka sebagaimana mereka adalah musuh-musuh Allah. Jika seseorang tidak mendeklarasikan thoghut itu batil, tidak menjauhinyadan tidak membencinya, dia tidak menolak thoghut dan masuk Islam. Pada dasarnya, jika seseorang memahami bahwa thoghut adalah musuh mereka, mereka tidak akan pernah bersekutu dengannya atau menjadi mufti atas rezim kufurnya. Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja." (QS Al Mumtahanah, 60: 4)

Para Nabi dan Saalihah tidak bertoleransi kepada Ulama yang berada dipintu-pintu penguasa tiran Muslim. Terlebih lagi tidak diperbolehkan berada pada pintu-pintu penguasa murtad yang telah bersekutu dengan salibis dan menolak Syari’ah.

4. Membenci Thoghut
Setelah seseorang mendeklarasikan thoghut itu batil, menjauhinya dan mendeklarasikan menjadi salah satu musuh, mereka seharusnya membenci thoghut. Dalam Islam, tidak ada konsep "cintailah musuhmu". Faktanya, dilarang untuk mencintai musuh kita dan itu hanyalah kebodohan kalau melakukan demikian. Ibrahim A.S. berkata kepada ummatnya, yang mengkufuri Allah dan beribadah kepada thoghut:

"...kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja...." (QS Al Mumtahanah, 60: 4)

Tidak diperbolehkan untuk menunjukkan kecintaan atau persahabatan kepada thoghut (Syaitan), atau kepada tentara-tentaranya, penolongnya, sponsor, asisten, pendukung, mufti, menteri, pengikut, dan sebagainya. Sebaliknya, seseorang harus beribadah kepada Allah dan membenci mereka.

5. Mendeklarasikan Thoghut Adalah Kafir (Takfir)
Kewajiban selanjutnya dalam menolak thoghut adalah seseorang harus melakukan takfir kepada thoghut (Syaitan). Tidaklah mungkin bagi thoghut (syaitan) bersama-sama dengan seorang Muslim karena thoghut adalah sesuatu yang disembah atau ditaati selain Allah; atau karena thoghut adalah Tuhan palsu.

"...barangsiapa yang ingkar kepada Thoghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus." (QS Al Baqarah, 2: 256)

Seseorang yang tidak melakukan Takfir dengan mendeklarasikan Syaitan (thoghut) menjadi kafir adalah kafir. Ini karena Allah SWT telah mendeklarasikan Syaitan menjadi Kafir dalam Qur’an. Selanjutnya, Allah SWT telah juga mendeklarasikan seseorang yang menyembah thoghut (dengan memutuskan perkara kepadanya) menjadi Kafir juga:

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thoghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya." (QS An Nisaa’, 4: 60)

Saat ini, sedang terjadi sebuah usaha yang gencar dilakukan untuk mengajak setiap orang beriman menjadi murtad dan selanjutnya menjadi kafir, dengan menggoda mereka menjadi dekat dengan thoghut dan tidak menjauh darinya. Dengan demikian, penting bagi kita untuk bertahan di bawah Tauhid dan bagaimana cara menolak thoghut; karena menolak thoghut (pemenuhan pilar pertama Tauhid) adalah kunci memahami Kalimah Syahadah, untuk selamat dari neraka dan memasuki surga. Insya Allah.

Wednesday, January 31, 2007

Itu Menyedihkan! Itu Menyenangkan! Itulah Hidup


Materi oleh: Chuck Gallozzi

Berikut ini adalah sebuah cerita yang mengandung kebijaksanaan di dalamnya.

MENYEDIHKAN, ITULAH HIDUP
Suatu ketika, seorang petani miskin terbingung-bingung menerima kenyataan karena kudanya telah mati semalam. "Menyedihkan sekali," tetangganya berkata. "Bagaimana kamu akan mengolah tanah yang keras ini tanpa kudamu?" tanya tetangganya. "Itulah hidup," sahut petani kepada tetangganya.

MENYENANGKAN, ITULAH HIDUP
Kemudian, seorang juragan yang kaya raya dari desa lain mendengar kabar tentang kuda itu. Juragan itu pun jatuh kasihan dan menghadiahi si petani dengan seekor kuda yang baru. "Menyenangkan sekali!" kata tetangganya tadi. Sekali lagi, si petani hanya berkata, "itulah hidup."

MENYEDIHKAN, ITULAH HIDUP
Suatu malam dua bulan kemudian, karena ketakutan saat terjadi hujan badai yang disertai petir dan angin kencang, kuda itu melompati pagar dan melarikan diri ke gunung. Sekali lagi, si petani harus kehilangan kudanya. Tetangganya mengomentari lagi, "Menyedihkan sekali, sekarang bagaimana?" Petani itu berkata pendek, "itulah hidup."

MENYENANGKAN, ITULAH HIDUP
Kurang dari tiga bulan kemudian, dengan mengejutkan orang sedesa, kuda itu kembali lagi ke kandang si petani. Hanya saja, kuda itu tidak kembali sendirian, melainkan datang bersama dengan seekor kuda lain yang terlihat begitu gagah. Sekarang petani itu punya dua kuda!
Kini, si petani dapat memanfaatkan satu kuda dan anaknya memanfaatkan kuda yang lain. Keluarga petani itu bisa panen dengan hasil dua kali lipat lebih banyak dari pada panen sebelumnya. Tetangga petani itu benar-benar tercengang dengan keberuntungannya. "Menyenangkan sekali!" komentarnya seperti biasa. Dan lagi-lagi: "Itulah hidup."

MENYEDIHKAN, ITULAH HIDUP
Musim dingin segera tiba. Para petani tak lagi bisa mengolah tanah yang dingin dan membeku.

Anak petani berpikir, itu adalah saat yang tepat untuk menunggangi kudanya berkeliling desa. Anak petani itu pun menaiki kudanya. Tapi sayangnya, ia tak cukup kuat dan pandai menunggangi kuda yang gagah dan perkasa. Ia terlempar jatuh, terluka, dan mengalami patah di kakinya. Tetangga petani itu berkomentar, "menyedihkan sekali!". "Sekarang anakmu cacat", tambahnya lagi. Petani itu menjawab, "itulah hidup."

MENYENANGKAN, ITULAH HIDUP
Saat musim semi tiba, datanglah seorang perwira militer ke desa itu. Dia mengambil semua pemuda yang sehat raganya, untuk ikut berperang di provinsi tetangga. Akibatnya, hampir semua pemuda dari desa itu tewas dalam peperangan.

Tetangga petani itu berujar lagi, "alangkah beruntungnya anakmu yang cacat itu. Ia tetap selamat bersamamu." Petani itu berterimakasih kepada tetangganya, kemudian ia berkata "itulah hidup."

TERIMALAH HIDUP "APA ADANYA", BUKAN "ADA APANYA"
Cerita di atas terus diceritakan dari generasi ke generasi. Mengapa? Karena cerita itu adalah mikrokosmos dari kehidupan. Hanya dengan beberapa paragraf, adalah sangat mungkin bagi kita untuk menarik pelajaran penting dari prinsip kehidupan.

Sesuatu yang baik bisa muncul dari sesuatu yang buruk. Tak usahlah Anda terlalu sedih, jika Anda tak tahu akan bagaimana akhir dari semua yang Anda alami. Begitu pula, sesuatu yang buruk bisa muncul dari sesuatu yang baik. Janganlah Anda terlalu senang dengan gelimang segala senang yang Anda rasakan saat ini.

Prinsip terpenting dari moralitas cerita di atas adalah, kita tidak akan pernah tahu kapankah keadaan kita akan baik atau buruk. Hanya waktu yang akan mengatakannya. Jadi, bagaimanakah kita harus memperlakukan hidup ini? Dengan tangan terbuka. Terimalah berbagai hal sebagaimana adanya. Terimalah semua hal "apa adanya", bukan "ada apanya".

Satu cara untuk mengekspresikan prinsip di atas, adalah begini:
"Pada akhirnya, segala sesuatu akan menjadi baik. Jika sesuatu tidak baik sekarang, maka itu bukan akhir segalanya."

Banyak dari kita, buta akan kehidupan. Obat kebutaan itu bukanlah 'sight' akan tetapi 'insight'. Lihatlah ke dalam. Untuk itu, tidak diperlukan mata, melainkan mata hati. Semuanya hanya perlu dimengerti. Semuanya hanya perlu dimengerti dengan prinsip-prinsip kehidupan.

APA YANG TERLIHAT TIDAK SEPERTI YANG TERLIHAT
Misalnya, "apa-apa tidak seperti penampakannya." Sesuatu yang terlihat baik, mungkin sebenarnya buruk. Begitu pula sebaliknya, apa yang terlihat buruk bisa jadi baik.

Perspektif, persepsi, sudut pandang, atau sikap kita, tidak semestinya di dasarkan pada data dari panca indera. Tidak semestinya juga didasarkan pada penampilan atau penampakan. Semestinyalah, cara kita melihat hidup didasarkan pada cahaya ilmu, pengetahuan dan pemahaman.

Pertimbangkan ini: menghakimi orang lain adalah seperti mengemudi kendaraan. Kita marah karena lampu mobil mereka menyilaukan mata kita, padahal lampu mobil kita sendiri mungkin lebih menyilaukan mata mereka.
Jika kita mau menerapkan pemahaman ini, maka kita akan berhenti merasa diserang oleh berbagai tampilan. Kita tidak melihatnya dengan mata, tapi dengan mata hati kita.

Ketahuilah, bahwa kebahagiaan tidak datang dari posisi tertentu, melainkan dari disposisi tertentu. Kebahagiaan bukan soal altitude melainkan attitude. Bukan tentang ketinggian posisi, melainkan keluhuran budi. Hanya itulah yang membedakan kebahagiaan dari kesedihan dan duka lara, kesehatan dari sakit, dan kesuksesan dari kegagalan.

MENYENANGKAN DAN MENYEDIHKAN, ITULAH HIDUP
Pertimbangkanlah poin-poin berikut ini:
Mawas dirilah tentang persepsi Anda akan kehidupan. Apakah Anda selalu senang, berbahagia dan merasakan kenikmatan? Jika tidak, berhentilah mengeluh karena itu tidak produktif. Berupayalah untuk mengerti bahwa persepsi tidak datang dari luar melainkan dari dalam. Jika Anda tidak berbahagia, persoalannya ada pada diri Anda. Bukanlah dunia yang tidak berbahagia, melainkan Andalah yang tidak berbahagia. Itu artinya, bukan dunia yang perlu diubah melainkan Andalah yang harus berubah.

Bagaimana Anda bisa berubah? Mulailah dengan menemukan kenyataan, akan adanya seribu satu jalan untuk menginterpretasikan berbagai kejadian. Anda punya kekuatan untuk memilih satu, dari tak terbatasnya sudut pandang. Pilihlah sudut pandang yang positif dan konstruktif. Berhentilah dengan segala reaksi otomatis seperti selama ini. Belajarlah untuk berhenti dan berpikir sejenak sebelum bertindak. Lihatlah dunia dengan cahaya alasan dan penyebab, jangan hakimi ia karena penampilannya.

Sadarilah, saat Anda memilih untuk melihat dunia dengan kaca mata yang berbeda, Anda akan merasa berbeda. Dan saat Anda merasa berbeda, Anda akan bertindak berbeda. Untuk menjadikan dunia ini pink bagi Anda, caranya mudah saja: Pakailah kacamata berwarna pink.


Memutuskan untuk berubah belumlah cukup. Janganlah berhenti hanya pada niat baik. Akhirilah dengan tindak lanjut. Make a plan and complete what you begin.

Mengembangkan kebiasaan baru selalu perlu upaya. Jangan berhenti hanya karena kendala. Gandhi mengatakan, "effort brings discomfort."

Saat menghadapi kesulitan, ingatlah bahwa itu tidak datang dari nasib buruk atau takdir acak. Nasib tidaklah buruk, dan takdir tidaklah asal-asalan. Andalah yang buta. Bagaimana Anda bisa melihat hari ini, sesuatu yang baru akan terjadi besok?

Jadilah petani miskin, dan katakan: "Itulah hidup."

Saturday, January 06, 2007

Menyimak Kisah Asmara Allah SWT


Syahdan dalam banyak riwayat dijelaskan bahwa alam semesta ini terlahir sebagai salah satu bentuk nyata dari sifat cinta Allah. Ia memiliki sifat "wujud" dan untuk menunjukkan kewujudan-Nya, maka salah satu isyarahnya Ia menciptakan alam semesta dan seisinya, lalu menaburkan benih-benih cinta di dalamnya. Begitu besar cinta Allah kepada makhluk yang Ia ciptakan, maka tak ada satu pun makhluk di alam ini yang tidak memiliki rasa cinta, hatta binatang buas sekalipun.

Belajar dari itu, sufi besar Rabi'ah al-Adawiyah malah mengaku, kepada setan pun ia tak pernah membenci karena makhluk terkutuk ini bisa dijadikan perantara cinta Rabi'ah kepada Allah. Semakin diganggu oleh setan, semakin besar rasa cintanya kepada Allah. Demikian juga dengan serangkaian kisah-kisah cinta para pecinta dengan Allah. Karena mereka sangat mencintai Allah, maka Ia memenuhi hati mereka dengan cinta atau mahabbah. Mahabbah adalah karunia khusus dari Allah, sementara rahmat Ia sediakan untuk semua makhluk hidup. Sejahat apa pun seseorang, Allah tak akan pernah menghentikan aliran rahman-Nya. Betapa besar cinta-Nya kepada kita semua sehingga begitu kita berbuat salah, Ia akan menunjukkan kita kepada jalan yang benar.

Untuk itulah, maka Allah senantiasa akan bersama mereka, menemani mereka, melangkah bersama mereka, memenuhi seluruh hajat mereka dan selalu siap menerima kalau para pecinta-Nya datang ingin berdialog. Jika suatu saat kelak manusia sudah menjauh dan meninggalkan Allah, maka Ia telah berjanji, "Ya Ayyuhal Ladziina Aamanuu Man Yartaddu Minkum 'An Diinihii Fasaufa Ya'tilLaahu Biqoumin Yuhibbuhum Wa Yuhibbuunahuu. (Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka menintai Allah)." (Al-Ma'idah:54).

Sungguh besar rasa cinta Allah, sampai-sampai Ia berjanji tak akan pernah meninggalkan para kekasih-Nya. Malah dalam banyak firman-Nya, diriwayatkan Ia selalu menanti para kekasih-Nya dalam seluruh daur waktu. Bahkan, pada seperempat malam terakhir, Allah turun ke langit dunia menanti para pecinta-Nya. Kita? Kita tidur lelap seperti bangkai meski gerbang cinta-Nya terbuka lebar dan Allah berharap kita datang kepada-Nya.

Syaikh Imam al-Qusyairy an-Naishabury dalam kitabnya Risalah al-Qusyairiyah malah menyebutkan Allah memiliki sifat "ghirah" atau cemburu. Seluruh kebaikan yang ada di alam semesta ini, adalah karena cinta-Nya sehingga karena itu Ia sangat tidak suka alias cemburu kalau ada orang yang berbuat sesuatu dan perbuatan itu melawan cinta alias hanya merusak dan menimbulkan kerusakan. Hadits dari Sayyidah Aisyah ra yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhori menyebutkan "Maa Ahadun Aghyaru MinalLaahi Ta'alaa, Wa Min ghiirotihi Harromal Fawaahisya Maa Dzahara Minha Wamaa Bathona. (Tidak ada yang lebih pencemburu daripada Allah SWT. Di antara bentuk cemburu-Nya adalah Dia melarang perbuatan keji, baik kekejian yang lahir maupun kekejian yang batin.)" Kalau seorang ibu mencintai anaknya, maka itu murni karena tetesan cinta Allah. Kalau ada seorang ayah banting tulang mencari nafkah untuk keluarga, itu semata karena sibghah cinta Allah. Kalau ada pemimpin sayang kepada rakyatnya, maka itu juga karena siraman cinta Allah. Semakin besar cinta seseorang maka semakin besar pula cinta Allah kepadanya.

Artinya pula, semakin sering kita berbuat durjana, maka semakin tipis rasa cinta kita dan semakin juah kita dari Allah. Semakin membara benci kita kepada sesama, maka semakin tipis pula rasa cinta kita kepada diri kita. Kalau kita tidak mencinta, maka kita telah mendzalimi diri kita sendiri karena dengan demikian pada saat bersamaan kita tengah menabur benih ketidaksukaan orang kepada kita karena tindakan kita.

Cinta akan datang dan pergi. Kalau dipupuk dengan jalan menyayangi dan mengasihi sesama, kaka cinta akan tumbuh dengan subur. Hidup kita akan diselimuti rasa cinta yang memancar dalam semua sikap, pola hidup dan tindakan kita sehari-hari. Cinta adalah dialog dan dialog adalah kedekatan. Cinta adalah merasakan apa yang dirasakan orang lain. Baginda Rasul selalu berpendar kegembiraan di wajahnya bila sudah mendekati waktu shalat. Baginya, waktu shalat adalah waktu dialog. Baginya waktu dialog adalah waktu untuk saling berdekatan. Baginda akan selalu berkata kepada sahabatnya, muadzdzin yang dia cintai, Bilal Bin Rabah, "Arihnaa Bishsholaati Ya Bilaal. (Berikan kami dengan shalat wahai Bilal.)"

Bagi kita shalat adalah medium paling formal yang diberikan Allah kepada kita untuk bisa selalu berdialog dengan-Nya, untuk bisa selalu berdekatan dengan-Nya. Shalat yang antara lain berintikan sujud, adalah saat-saat yang paling tepat untuk menghitung diri, seberapa kecil diri ini dan seberapa besar rasa pengharapan dan ketergantungan kita kepada Allah. Menurut Imam Ali Bin Abi Thalib, setelah sekian puluh tahun iblis mengagungkan dan membesarkan Allah, ia lantas mendapatkan laknat tanpa batas dan tiada akhir hanya karena sekali lalai bersujud.
Ia menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam as. Lalu pernahkah kita meninggalkan shalat, meninggalkan sujud? Kalau dalam sehari kita tidak shalat dzuhur, maka itu artinya sudah delapan kali kita tidak bersujud. Iblis sekali saja tidak bersujud, mendapatkan azab teramat pedih dan menjadi bahan kutukan semua makhluk hidup. Maka bagaimana dengan nasib kita? Berapa kalikah dalam hidup ini kita tidak besujud? Sujud lahir karena cinta. Cinta lahir karena dialog. Cinta lahir karena kedekatan. Apa susahnya bersujud dan apa susahnya mencinta, berdialog dan berdekatan dengan Allah SWT.
Bagitu cemburu-Nya Allah, sampai-sampai Dia tak pernah dan tidak akan pernah berkenan diduakan, dinomorduakan apalagi disekutukan. Ia ingin, cinta kita kepada-Nya bertengger di peringkat domor satu, di atas nama-nama lain yang kita cintai. Bagi-Nya penyekutuan terhadap diri-Nya adalah dosa besar dan sungguh tak terampunkan. Menduakan Allah, dinilai sebagai sebuah pendzaliman diri. Penyekutuan adalah tindakan dzalim yang sangat besar. "Innas Syirka La Dzulmun 'Adzhiim."

Sehingga ketika sahabat karib-Nya, Kholilullah Ibrahim as merasa gentar, Ia bertanya ada apa gerangan sahabat-Ku? "Duhai Tuhanku. Bagaimana hamba tidak gentar dan tidak akan berada dalam kegentaran, sementara Adam as ayahku yang nyata-nyata dahulu dekat dengan-Mu, Kauciptakan dia dengan tangan-Mu dan Kautiupkan sendiri sebagian ruh-Mu kepadanya dan bahkan para malaikat Engkau perintah bersujud kepadanya, tetapi hanya dengan satu pembangkangan, ia Engkau keluarkan dari sisi-Mu." Sambil tersenyum Allah menukas, pembangkangan kekasih atas kekasih adalah berat akibatnya. "Ma'shiyatul Habiib 'Alal Habiib Syadidaah. (Pembangkangan seseorang kekasih kepada kekasihnya adalah berat.)". Semoga kita selalu diselimuti cinta. Cinta kepada Allah, cinta kepada Baginda Rasul dan cinta kepada sesama makhluk hidup. Wallaahu A'lamu Bishsowaab.

Thanks

KH A Hasyim Muzadi

Friday, December 22, 2006

Sapi dan Pembunuh



Kita jadi ingat kaum Bani Israil, umat Nabi Musa yang suka membangkang. Ketika kaum Musa itu ditinggal pergi ke Gunung Tursina,mereka kembali murtad dan menyembah sapi. Lalu terjadilah sebuah peristiwa pembunuhan. Si pembunuh malah melaporkan pembunuhan itu ke publik, bahwa ada pembunuhan entah siapa yang melakukannya. Keadaan jadi anarkis, tak ditemukan siapa pembunuhnya. Dengan wahyu Tuhan, Musa menyuruh penyembilihan sapi sebagai kata putus untuk menemukan pembunuhnya. Langkah itu selain sebagai ikhtiar mengakhiri perselisihan akibat pembunuhan, sekaligus sebagai simbol mendelegitimasi kemusyrikan kaum Bani Israil yang menyembah sapi.

Tapi apa lacur? Kaum Bani Israil memang dikenal suka membangkang. Mereka bertanya kepada Musa alaihissalam. Mula-mula menolak untuk menyembelih sapi, karena takut jadi ejekan. Setelah diyakinkan Musa, akhirnya mau tapi masih bertanya pula. Tanyakan kepada Tuhan, sapi betina atau jantan? Sapi betina. Tua apa masih muda? Tidak tua juga tidak muda. Apa warnanya? Sapi kuning tua, yang menyenangkan setiap orang yang memandangnya. Kaum Musa itu masih juga bertanya, sapi seperti apa lagi? Sapi betina yang dikehendaki itu ialah sapi betina berwarna kuning tua, yang belum pernah dipakai membajak tanah atau mengairi tanaman, tidak cacat, juga tidak ada belangnya. Nyaris saja mereka mengingkarinya, jika tidak karena kehabisan logika dan kesabaran Nabi Musa. Selalu bertanya dan mengaburkan logika agama demi menisbikan dan bahkan menolaknya.


aku merenung dan bertanya pada diri sendiri : "andai saja mereka tidak bertanya lagi tentang spesifikasi sapi itu, pastinya mereka takkan dipusingkan dalam melangkah, menunaikan perintah Nabi Musa as, hal itu terjadi dikarenakan pertanyaan mereka sendiri ?"

jika melihat kasus di atas ada dua hal yang ingin coba diuraikan :
1. Pencariannya adalah siapa pembunuh temannya
2. Sapi hanyalah sebuah ikhtiar untuk menemukan siapa pembunuh sebenarnya

Apakah ada hubungan logis antara sapi dengan si-pembunuh ? "TENTU SAJA TIDAK" hanya butuh "IMAN" atau keyakinan pada ucapan Nabi Musa as dan untuk melakukan semua itu. Ketaatan mereka pada Nabi Musa as adalah sebagai bentuk implementasi dari ketaatan pada Allah SWT.

Hal lainnya yang bisa diambil pelajaran buatku adalah ternyata untuk taat kepada Allah SWT tetap saja implementasinya taat kepada manusia (tidak langsung kepada Allah SWT), dalam penggalan cerita di atas adalah taat kepada Nabi Musa as sebagai pemimpin dan juga penerus Risalah Kerasulan.

Mazhab Bani Israil


Maaf, Anda ingin telanjang di muka umum? Telanjanglah sebebas-bebasnya, tak perlu sungkan. Telanjang itu katanya simbol kejujuran. Ketika kemunafikan merajalela,ketelanjangan merupakan pilihan. Simbol perlawanan terhadap berbagai topeng. Jadilah ketelanjangan sebagai benar, bahkan perlu dipertunjukan di ruang publik. Telanjang bukan lagi keseronokan, apalagi melanggar moral. Ketelanjangan bukan lagi sebuah kebugilan fisik, yang mengoyak nilai-nilai luhur kehidupan. Ketelanjangan itu sebuah estetika yang filosofis.

Demikian logika kaum seniman dan pendukung ekspresi bebas-nilai beragumentasi soal telanjang tubuh di muka publik. Ketika karya seni digital menampilkan foto dua artis ternama dalam keadaan telanjang, yang menuai kritik dan aduan masyarakat yang tak setuju, para pendukung seni telanjang membela mati-matian. Foto telanjang itu sama sekali bukan pornografi atau pornoaksi, tetapi sebuah keindahan yang melambangkan kejujuran. Jadi bukan sesuatu yang porno, baik pornografi maupun pornoaksi.

Soal porno? Tergantung pada orangnya, demikian dalih mereka. Bagi orang berpikiran ngeres, katanya, foto telanjang itu jadi porno. Bagi penikmat seni dan mereka yang tidak ngeres, foto atau apa pun karya seni yang ditampilkan itu menjadi indah. Itu namanya estetika, bukan kepornoan. Bukan keseronokan. Lagian, kaum agamawan, juga orang awam,mereka tak paham seni. Wong mereka biasa ngaji kitab kuning, mana tahu cita rasa seni, kecuali seniman yang kiai atau kiai yang seniman. Seni itu berbeda dari agama dan moral. Seni itu seni, bukan yang lain. Bagaimana Undang-undang atau agama mau membatasi karya seni yang memiliki norma sendiri, yang berbeda dari norma hukum dan agama? Begitulah argumen kaum seniman bebas-nilai.

Maka, ketika RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi digulirkan di DPR, para seniman dan mereka yang mendukung seni bebas-nilai itu betul-betul menolaknya. Mula-mula mereka menolaknya karena batasan pornografi dan pornoaksi tidak jelas. Ada juga yang menerima, tetapi hanya untuk membatasi atau memberantas tabloid, majalah, surat kabar, dan VCD porno yang seronok dan kini tengah dirazia polisi di berbagai tempat. Apalagi kalau VCD atau karya seronok itu hasil bajakan, para seniman itu setuju sekali dengan razia polisi, maklum karya-karya mereka banyak dibajak. Kalau menyentuh keuntungan bagi kepentingannya memang gampang sekali setuju, tapi kalau merugikan menolak dengan keras.

Ketika konsep porno dijelaskan, mereka bergeser lagi ke sisi lain.Baiklah, pornografi jelas batasannya, tetapi pornoaksi bagaimana? Bagaimana para penari seni tradisional seperti tari Bali, penduduk asli di pedalaman Papua, apa mau dikategorikan pornoaksi? Ketika dijelaskan, bahwa hal-hal seperti itu dimasukkan dalam konteks budaya daerah yang memiliki wilayah aturan sendiri, para seniman sekuler-liberal itu bergeser lagi. Taruhlah batasan pornografi dan pornoaksi itu diperjelas, tetapi apa harus ada Undang-Undang? Seni dan ekspresinya tidak bisa dibatasi oleh apa pun.

Pendukung seni bebas-nilai bahkan kian bertambah. Sejumlah pihak menolak RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi dengan logika hubungan rakyat dan negara. Janganlah negara mengatur moral masyarakat, kata mereka. Biarlah moral itu jadi milik kehidupan orang perorang, tidak perlu diatur negara.

Dengan berbagai dalih yang hebat dikatakan, di negara-negara maju seperti di Barat, negara tidak ikut campur dalam urusan moral maupun agama. Moral dan agama jangan masuk urusan negara, biarlah jadi milik pribadi manusia, warga negara. Itulah logika kaum sekuler, dengan pengalaman hubungan agama (Kristen) di Barat. Kelompok ini beberapa waktu yang silam juga menolak kehadiran Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, yang memasukan pendidikan agama.

Pemisahan negara dan agama berangkat dari paradigma Barat, sebagai pilihan paling ekstrem dari trauma buruk hubungan Gereja dan negara di abad pertengahan. Peradaban modern Barat yang menjadi rujukan modernitas di seluruh negeri sekaligus mematok pemisahan agama dan negara. Pola ini dianggap berlaku ideal dan universal untuk seluruh dunia, tanpa kecuali. Jika ada negara dan komunitas agama yang ingin melembagakan agama atau mempertautkannya ke dalam negara, dianggap buruk bagi bangunan peradaban modern. Tidak mengikuti standar kebudayaan Barat yang maju, modern, dan berperadaban tinggi, sebagai kiblat kejayaan. Tapi ironisnya, ketika negara dalam beberapa hal menguntungkan, kaum sekularis netral agama dan penganut pemisahan agama dan negara itu, tidak malu-malu juga meminta campur tangan negara untuk kepentingan menyalurkan aspirasinya. RUU Anti Pornografi dan pornoaksi ditolak karena tidak jelas batasannya. Setelah dibikin jelas, ditolak pula dengan alasan negara tidak boleh campur tangan mengurus atau mengatur moral masyarakat. Ditolak pula karena seni memiliki nalar dan kebebasan sendiri, yang tidak bisa dijerat oleh hukum negara.

Kita jadi ingat kaum Bani Israil, umat Nabi Musa yang suka membangkang. Ketika kaum Musa itu ditinggal pergi ke Gunung Tursina,mereka kembali murtad dan menyembah sapi. Lalu terjadilah sebuah peristiwa pembunuhan. Si pembunuh malah melaporkan pembunuhan itu ke publik, bahwa ada pembunuhan entah siapa yang melakukannya. Keadaan jadi anarkis, tak ditemukan siapa pembunuhnya. Dengan wahyu Tuhan, Musa menyuruh penyembilihan sapi sebagai kata putus untuk menemukan pembunuhnya. Langkah itu selain sebagai ikhtiar mengakhiri perselisihan akibat pembunuhan, sekaligus sebagai simbol mendelegitimasi kemusyrikan kaum Bani Israil yang menyembah sapi.

Tapi apa lacur? Kaum Bani Israil memang dikenal suka membangkang. Mereka bertanya kepada Musa alaihissalam. Mula-mula menolak untuk menyembelih sapi, karena takut jadi ejekan. Setelah diyakinkan Musa, akhirnya mau tapi masih bertanya pula. Tanyakan kepada Tuhan, sapi betina atau jantan? Sapi betina. Tua apa masih muda? Tidak tua juga tidak muda. Apa warnanya? Sapi kuning tua, yang menyenangkan setiap orang yang memandangnya. Kaum Musa itu masih juga bertanya, sapi seperti apa lagi? Sapi betina yang dikehendaki itu ialah sapi betina berwarna kuning tua, yang belum pernah dipakai membajak tanah atau mengairi tanaman, tidak cacat, juga tidak ada belangnya. Nyaris saja mereka mengingkarinya, jika tidak karena kehabisan logika dan kesabaran Nabi Musa. Selalu bertanya dan mengaburkan logika agama demi menisbikan dan bahkan menolaknya.

Kita berharap mazhab Bani Israil tidak semakin meluas di negeri ini. Lebih-lebih yang berkaitan dengan membangun moral masyarakat dan tegaknya nilai-nilai luhur agama dalam kehidupan publik. Jika ditarik ke sana ke mari, apa pun bisa direlatifkan, bahkan agama dan Tuhan sekalipun. Sudah terlalu jauh moralitas di negeri ini kehilangan daya rekatnya dalam kehidupan individu maupun kolektif. Sudah terlalu meluas dan menyolok mata pula berbagai bentuk keseronokan dan demoralisasi hadir di ruang publik kita tanpa rasa sungkan. Kasihan sekali masa depan generasi anak-anak bangsa di negeri ini. Mereka jadi sasaran empuk dan konsumen murahan dari berbagai produk keseronokan yang merusak moral dan potensi diri anak negeri. Di tengah bahana demoralisasi dan keseronokan yang liar seperti itu, ternyata para seniman dan penganut paham sekuler agama, tidak banyak berbuat selain asyik-maksyuk dengan dunianya sendiri secara ananiyah.

Biarlah setiap pilar bergerak untuk memulai membangun karakter bangsa, juga melalui penegakan moral agama maupun konstitusi negara dan hukum. Memang hukum saja tidak cukup. Politik saja tidak cukup. Pendidikan formal saja tidak memadai. Negara pun tidak cukup. Bahkan, jika dinisbikan, upaya setiap agama dan kelompok-kelompok agama pun tidak cukup untuk membangun moral dan mencegah kerusakan. Tapi jika tidak dimulai, mau dari mana dan kapan lagi?

Jika semua hal dinisbikan, jangankan sebuah Undang-Undang, bahkan agama dan Tuhan pun bisa dianggap nihil. Lalu yang muncul ke permukaan ialah imperium baru yang bernama kebebasan, seni, dan demokrasi yang mendewakan dirinya sendiri dan tak boleh tersentuh apapun. Mazhab Bani Israil dengan logika relativisme, anarkisme, dan nihilisme lantas hadir kembali di alam modern laksana sebuah kekaisaran baru yang penuh gemerlap, sekaligus berwajah cantik.

Thanks

Haedar Nashir

Monday, December 18, 2006

kok mirip ayam ya


Di siang hari waktu aku sedang keluar ke belakang rumahku Aku melihat ayam betina dan ayam jago sedang kawin Setelah kawin ayam betina itu mencari tempat untuk bertelur Setelah mempunyai telur lebih dari lima butir, ayam betina itu lalu mengerami telurnya.Sewaktu ayam betina mengerami telurnya, si ayam jago ternyata sudah kawin lagi dengan ayam betina yang lain. Sewaktu menghidupkan televisi aku melihat acara pernikahan artis yang terkenal. Pestanya meriah, menghabiskan uang banyak. Beberapa bulan setelah itu mereka mempunyai anak. Setelah anaknya mulai sekolah TK ternyata pasangan artis itu ribut Hingga ke pengadilan. Kemudian mereka berpisah dan cerai.Tidak lama setelah itu diberitakan mereka kawin lagi dengan pasangan yang lain.

Aku pikir "kok mirip ayam ya."

Friday, December 15, 2006

Inspiration of The Day


Inspiration of The Day

saya akan sampaikan pidato Pemimpin Panglima Perang THARIQ BIN ZIYAD pada bulan Rajab tahun 97 H (Juli 711 M) di hadapan 7000 pasukannya saat menaklukan Andalusia (spanyol) dengan menyeberangi selat Andalusia yang konon menghadapi lawan berjumlah 25000 pasukan bersenjata lengkap.

Bahkan karena keberanian dan kepahlawanannya, namanya diabadikan pada sebuah semenanjung bukit karang setinggi 425 m di pantai tenggara Spanyol, Gibraltar atau Jabal Thariq.

Pidato ini diucapkan sesaat setelah Thariq memerintahkan pasukannya untuk membakar kapal-kapalnya sendiri. sehingga baginya dan pasukannya tidak ada Pilihan selain TERUS MAJU UNTUK MENANG ATAU MATI SYAHID, Tak ada kata untuk mundur dan pulang.

Berikut pidato yang menjadi kobaran semangat yang maha hebat sehingga mengantarkan suksesnya menghadapi berlipat-lipat kali ganda pasukan musuh

"Wahai saudara-saudaraku, lautan ada di belakang kalian, musuh ada di depan kalian, ke manakah kalian akan lari? Demi Allah, yang kalian miliki hanyalah kejujuran dan kesabaran. Ketahuilah bahwa di pulau ini kalian lebih terlantar dari pada anak yatim yang ada di lingkungan orang-orang hina. Musuh kalian telah menyambut dengan pasukan dan senjata mereka. Kekuatan mereka sangat besar, sementara kalian tanpa perlindungan selain pedang-pedang kalian, tanpa kekuatan selain dari barang-barang yang kalian rampas dari tangan musuh kalian. Seandainya pada hari-hari ini kalian masih tetap sengsara seperti ini, tanpa adanya perubahan yang berarti, niscaya nama baik kalian akan hilang, rasa gentar yang ada pada hati musuh akan berganti menjadi berani kepada kalian. Oleh karena itu, pertahankanlah jiwa kalian!"

(diambil dari berbagai sumber)

Friday, December 08, 2006

Empat Nasihat Bekal Ke Akhirat


Rosulullah SAW pernah bersabda kepada Abu Dzar AlGhifari ra :

"Wahai Abu Dzar,
1. Perbaruilah perahumu, karena lautan itu sanga dalam;
2. Carilah perbekalan yang lengkap, karena perjalan itu sangat jauh;
3. kurangilah beban, karena rintangan itu amatlah sulit untuk diatasi dan;
4. ikhlaskan dalam beramal, karena yang menilai baik dan buruk adalah Dzat Yang Maha Melihat"


perbaruliah maksudnya perbaiki niatmu dalam setiap beramal agar engkau memperoleh pahala dan selamat dari siksa Allah SWT.

Kurangilah beban maksudnya janganlah banyak-banyak engkau mengambil keduniaan.

Diserupakannya akhirat dengan lautan yang dalam, perjalanan yang jauh, dan rintangan yang amat sulit untuk diatasi, karena banyaknya kesulitan dan rintangan yang mesti dilewati untuk bisa sampai kepada kebahagiaan akhirat. [2:214]

Abu Sulaiman ad-Darani berkata : "Beruntunglah orang yang dalam hidupnya benar-benar mencapai ridha Allah SWT". Ucapan Ad-Darani ini mengacu pada sabda Nabi SAW yang ditunjukan kepada Mu'adz ra : "Ikhlaskan niat, niscaya engkau akan menerima balasan amalmu meskipun itu sedikit"

seorang penyair berkata :

Manusia wajib bertobat
namun meninggalkan dosa itu lebih wajib lagi

Sabar dalam menghadapi musibah itu sulit
namun hilangnya pahala sabar itu lebih sulit lagi

Perubahan zaman itu memang sesuatu yang aneh
namun kelalaian manusia lebih aneh lagi

Peristiwa yang akan datang terkadang terasa dekat
namun kematian itu lebih dekat lagi


Anas ra meriwayatkan bahwa :

"Pada suatu hari Rasulullah SAW keluar rumah sambil memegang tangan Abu Dzar beliau bersabda: "Wahai Abu Dzar, tahukah engkau bahwa di hadapan kita ada rintangan yang amat sulit untuk diatasi, yang tidak akan bisa melewatinya, kecuali orang yang ringan?" Lantas ada seorang lelaki berkata: "Ya Rasulullah, apakah aku termasuk orang yang ringan atau orang yang berat ?", Beliau bertanya: "Apakah engkau punya makanan untuk sehari ?" lelaki itu menjawab : "Punya !" ,Rasulullah SAW lalu bertanya : "Apakah engkau punya makanan untuk besok ?", Ia menjawab : "Punya !" Beliau bertanya lagi: "Apakah engkau punya makanan untuk lusa ?", Ia menjawab : "Tidak !", Beliau lantas bersabda : "Apabila engkau memiliki makanan buat jatah sampai tiga hari, maka engkau termasuk orang-orang yang berat"

Wednesday, December 06, 2006

PUISI TENTANG IJIN BERPOLIGAMI



PUISI SUAMI IJIN BERPOLIGAMI

Istriku,
Jika engkau bumi, akulah matahari
Aku menyinari kamu
Kamu mengharapkan aku
Ingatlah bahtera yang kita kayuh, begitu penuh riak gelombang
Aku tetap menyinari bumi, hingga kadang bumi pun silau

Lantas aku ingat satu hal
Bahwa Tuhan mencipta bukan hanya bumi
Ada planet lain yang juga mengharap aku sinari
Jadi ...
Relakanlah aku menyinari planet lain, menebar sinarku
Menyampaikan faedah adanya aku, karna sudah kodrati
Dan Tuhan pun tak marah ...

BALASAN PUISI SANG ISTRI

Suamiku,
Bila kau memang mentari, sang surya penebar cahaya
Aku rela kau berikan sinarmu kepada segala planet
yang pernah Tuhan ciptakan
karna mereka juga seperti aku, butuh penyinaran
dan aku pun juga tak akan merasa kurang dengan pencahayaanmu

AKAN TETAPIIIIIIII ...
Bila kau hanya sejengkal lilin yang berkekuatan 5 watt,
jangan bermimpi menyinari planet lain!!!
Karena kamar kita yang kecil pun belum sanggup kau terangi
Bercerminlah pada kaca di sudut kamar kita
di tengah remang-remang pencahayaanmu yg telah aku mengerti
untuk tetap menguak mata
Coba liat siapa dirimu ... MENTARI atau lilin? PLIS DEH ...!!!

Monday, December 04, 2006

Bergerak :: Rhenald Kasali ::


"Sebagian besar orang yang melihat belum tentu bergerak, dan yang bergerak belum tentu menyelesaikan (perubahan)." Kalimat ini mungkin sudah pernah Anda baca dalam buku baru Saya, "ChaNge". Minggu lalu, dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Indosat, iseng-iseng Saya mengeluarkan dua lembaran Rp 50.000. Di tengah-tengah ratusan orang yang tengah menyimak isi buku, Saya tawarkan uang itu. "Silahkan, siapa yang mau boleh ambil," ujar Saya. Saya menunduk ke bawah menghindari tatapan ke muka audiens sambil menjulurkan uang Rp 100.000.

Seperti yang Saya duga, hampir semua audiens hanya diam terkesima. Saya ulangi kalimat Saya beberapa kali dengan mimik muka yang lebih serius. Beberapa orang tampak tersenyum, ada yang mulai menarik badannya dari sandaran kursi, yang lain lagi menendang kaki temannya. Seorang ibu menyuruh temannya maju, tetapi mereka semua tak bergerak. Belakangan, dua orang pria maju ke depan sambil celingak-celinguk. Orang yang maju dari sisi sebelah kanan mulanya bergerak cepat, tapi ia segera menghentikan langkahnya dan termangu, begitu melihat seseorang dari sisi sebelah kiri lebih cepat ke depan. Ia lalu kembali ke kursinya. Sekarang hanya tinggal satu orang saja yang sudah berada di depan Saya. Gerakannya begitu cepat, tapi tangannya berhenti manakala uang itu disentuhnya. Saya dapat merasakan tarikan uang yang dilakukan dengan keragu-raguan. Semua audiens tertegun.

Saya ulangi pesan Saya, "Silahkan ambil, silahkan ambil." Ia menatap wajah Saya, dan Saya pun menatapnya dengan wajah lucu. Audiens tertawa melihat keberanian anak muda itu. Saya ulangi lagi kalimat Saya, dan Ia pun merampas uang kertas itu dari tangan Saya dan kembali ke kursinya. Semua audiens tertawa terbahak-bahak. Seseorang lalu berteriak, "Kembalikan, kembalikan!" Saya mengatakan, "Tidak usah. Uang itu sudah menjadi miliknya."

Setidaknya, dengan permainan itu seseorang telah menjadi lebih kaya Rp.100.000. Saya tanya kepada mereka, mengapa hampir semua diam, tak bergerak. Bukankah uang yang Saya sodorkan tadi adalah sebuah kesempatan? Mereka pun menjawab dengan berbagai alasan:
"Saya pikir Bapak cuma main-main ............"
"Nanti uangnya toh diambil lagi."
"Malu-maluin aja."
"Saya tidak mau kelihatan nafsu. Kita harus tetap terlihat cool!"
"Saya enggak yakin bapak benar-benar akan memberikan uang itu ....."
"Pasti ada orang lain yang lebih membutuhkannya...."
"Saya harus tunggu dulu instruksi yang lebih jelas....."
"Saya takut salah, nanti cuma jadi tertawaan doang........."
"Saya, kan duduk jauh di belakang..." dan seterusnya.

Saya jelaskan bahwa jawaban mereka sama persis dengan tindakan mereka sehari-hari. Hampir setiap saat kita dilewati oleh rangkaian opportunity (kesempatan), tetapi kesempatan itu dibiarkan pergi begitu saja. Kita tidak menyambarnya, padahal kita ingin agar hidup kita berubah. Saya jadi ingat dengan ucapan seorang teman yang dirawat di sebuah rumah sakit jiwa di daerah Parung. Ia tampak begitu senang saat Saya dan keluarga membesuknya. Sedih melihat seorang sarjana yang punya masa depan baik terkerangkeng dalam jeruji rumah sakit bersama orang-orang tidak waras. Saya sampai tidak percaya ia berada di situ. Dibandingkan teman-temannya, ia adalah pasien yang paling waras. Ia bisa menilai "gila" nya orang di sana satu persatu dan
berbicara waras dengan Saya. Cuma, matanya memang tampak agak merah. Waktu Saya tanya apakah ia merasa sama dengan mereka, ia pun protes. "Gila aja....ini kan gara-gara saudara-saudara Saya tidak mau mengurus Saya. Saya ini tidak gila. Mereka itu semua sakit.....". Lantas, apa yang kamu maksud 'sakit'?"
"Orang 'sakit' (gila) itu selalu berorientasi ke masa lalu, sedangkan Saya selalu berpikir ke depan. Yang gila itu adalah yang selalu mengharapkan perubahan, sementara melakukan hal yang sama dari hari ke hari.....,"
katanya penuh semangat." Saya pun mengangguk-angguk.

Pembaca, di dalam bisnis, gagasan, pendidikan, pemerintahan dan sebagainya, Saya kira kita semua menghadapi masalah yang sama. Mungkin benar kata teman Saya tadi, kita semua mengharapkan perubahan, tapi kita tak tahu harus mulai dari mana. Akibatnya kita semua hanya melakukan hal yang sama dari hari ke hari, Jadi omong kosong perubahan akan datang. Perubahan hanya bisa datang kalau orang-orang mau bergerak bukan hanya dengan omongan saja.

Dulu, menjelang Soeharto turun orang-orang sudah gelisah, tapi tak banyak yang berani bergerak. Tetapi sekali bergerak, perubahan seperti menjadi tak terkendali, dan perubahan yang tak terkendali bisa menghancurkan misi perubahan itu sendiri, yaitu perubahan yang menjadikan hidup lebih baik. Perubahan akan gagal kalau pemimpin-pemimpinnya hanya berwacana saja. Wacana yang kosong akan destruktif.

Manajemen tentu berkepentingan terhadap bagaimana menggerakkan orang-orang yang tidak cuma sekedar berfikir, tetapi berinisiatif, bergerak, memulai, dan seterusnya. Get Started. Get into the game. Get into the playing field, Now. Just do it!. Janganlah mereka dimusuhi, jangan inisiatif mereka dibunuh oleh orang-orang yang bermental birokratik yang bisanya cuma bicara di dalam rapat dan cuma membuat peraturan saja. Makanya tranformasi harus bersifat kultural, tidak cukup sekedar struktural. Ia harus bisa menyentuh manusia, yaitu manusia-manusia yang aktif, berinisiatif dan berani maju. Manusia pemenang adalah manusia yang responsif. Seperti kata Jack Canfield, yang menulis buku Chicken Soup for the Soul, yang membedakan antara winners dengan losers adalah
"Winners take action... they simply get up and do what has to be done...".
Selamat bergerak!

Tuesday, November 28, 2006

Oh My Love - John Lennon


Oh my love for the first time in my life
My eyes are wide open
Oh my lover for the first time in my life
My eyes can see

I see the wind, oh I see the trees
Everything is clear in my heart
I see the clouds, oh I see the sky
Everything is clear in our world

Oh my love for the first time in my life
My mind is wide open
Oh my lover for the first time in my life
My mind can feel

I feel the sorrow, oh I feel the dreams
Everything is clear in my heart
I feel life, oh I feel love
Everything is clear in our world

Wednesday, November 22, 2006

Kisah Pedagang Berharta Paling Zuhud dan Nasehat Hasan Al Basri


Habib Al-Ajami adalah salah seorang penduduk Basrah, Pedagang berharta, suatu ketika ia menghadiri majelis Al-Hasan Al-Basri (semoga Allah merahmati beliau) dan mendengarkan nasehatnya, maka nasehat itu merasuk dalam hati Habib Al-Ajami,semenjak itulah Habib Al-Ajami menjadi seorang yang paling zuhud dan ahli ibadah di kota Basrah.

Inilah kisahnya untukmu secara rinci.

Adalah Al-Hasan Al-Basri duduk dalam majelisnya dimana setiap hari ia mengadakan majelis ditempat itu. Adapun Habib Al-Ajami duduk dalam majelisnya dimana ahli dunia dan perdagangan mendatanginya. Dan ia lalai dengan menjelis Al-Hasan Al-Basri, dan tidak menoleh sedikitpun dengan apa yang disampaikan oleh Al-Hasan Al-Basri. Hingga suatu hari ia ingin mengetahui apa yang disampaikan Al-Hasan Al-Basri, maka dikatakan kepadanya : “Dalam majelis Al-Hasan Al-Basri diceritakan tentang surga, neraka dan manusia diberi semangat untuk mendapatkan akhirat, dan ditanamkan sikap zuhud terhadap dunia (memfokuskan segala karunia Allah untuk akhirat). Maka perkataan ini menancap dalah hatinya, lalu ia pun berkata : "Mari kita mendatangi majelis Al-Hasan Al-Basri!", maka berkatalah orang-orang yang duduk dalam majelis kepada Al-Hasan Al-Basri : "Wahai Abu Said ini adalah Habih Al-Ajami menghadap kepadamu nasehatilah ia. Lalu Habib Al-Ajami menghadap Hasan Al-Basri dan Hasan Al-Basri menghadap kepadanya, lalu ia nasehati Habib Al-Ajami, ia ingatkan dengan syurga, ia takut-takuti dengan neraka, ia hasung untuk melakukan kebaikan, ia ingatkan untuk berlaku zuhud di dunia. Maka Habib Al-Ajami pun terpengaruh dengan nasehat itu, lalu bersedekah 40 ribu dinar. Dan iapun berlaku qona'ah (menerima) dengan hal sedikit, dan ia terus beribadah kepada Allah hingga meninggal dunia" [Hilyatul Aulia 6/149 dengan sedikit perubahan, dan lihat Siyar 'Alamun Nubala 6/144]

Barangkali engkau melihat kejujuran Al-Hasan Al-Basri (semoga Allah merahmati beliau) dalam dakwahnya, selamatnya tujuan dakwahnya, hingga nasehatnya membekas dalam hati Habib Al-Ajami, nasehat yang jujur itu telah memindahkan dari riuhnya suara di pasar dan perdagangan hingga menjadi sorang ahli ibadah dan ahli zuhud yang mempunyai do'a yang mustajab (doa yang dikabulkan) dan karamah yang mulia, sebagaimana ia seorang ahli bersedekah dan berinfak di jalan Allah Ta'ala.

Alangkah indahnya perkataan Malik bin Dinar dalam permasalahan ini : "Kejujuran itu nampak dalam hati dalam keadaan lemah, lalu pemilik hati itupun mencarinya, dan Allah menambahnya hingga menjadikannya berbarakah pada dirinya, dan menjadilah perkataannya obat bagi orang-orang bersalah".

Lalu Malik berkata : "Apakah kalian tidak melihat mereka ?", kemudian ia kembali kepada dirinya : "Ya, benar demi Allah kami telah melihat mereka itu : Al-Hasan Al-Basri, Said bin Jubair dan semisal mereka itu, seorang lelaki diantara mereka yang Allah hidupkan perkataannya kepada sekelompok manusia" [Hilyatul Aulia 2/359]

Dan tatkala Zainal Abidin Ali bin Al-Husain mendengar nasehat Al-Hasan Al-Basri, ia berkata : "Maha suci Allah ini adalah perkataan orang yang jujur" [Akhbarul Hasan Al-Basri Li Ibnul Jauzi hal. 2]

Salah seorang ulama ditanya : "Mengapa perkataan Salafus Shalih lebih bermanfaat dari perkataan kita?" maka iapun menjawab : "Karena mereka berbicara untuk kemulian Islam, untuk keselamatan jiwa, untuk mencari ridho Allah Yang Maha Pemurah, sedangkan kita berbicara untuk kemuliaan diri, mencari dunia dan mencari keridhaan mahluk" [Sifatu Sofwah karya Ibnul Jauzi 4/122]

Dan sebab-sebab seseorang mendapatkan manfaat dari nasehat-nasehat Al-Hasan Al-Basri dan dari majelis-majelisnya, bahwasanya Al-Hasan Al-Basri (semoga Allah merahmati beliau) adalah panutan yang baik, dan tidaklah termasuk orang-orang yang mengatakan apa yang tidak ia kerjakan.

Dikatakan kepada salah seorang dari teman Al-Hasan Al-Basri : "Apakah sesuatu yang menyebabkan Al-Hasan Al-Basri mencapai kedudukannya seperti ini ? Padahal diantara kalian terdapat para ulama dan ahli-ahli fikih ?", Teman Al-Hasan Al-Basri itupun berkata : "Adalah Al-Hasan Al-Basri jika memerintahkan suatu perkara maka ia adalah seorang manusia yang paling mengamalkan terhadap apa yang ia perintahkan, dan jika ia melarang dengan suatu kemungkaran maka ia adalah seorang manusia yang paling jauh meninggalkan larangan itu" [Tablis Iblis karya Ibnul Jauzi hal. 68]

Dan perkara lain yang wajib kita perhatikan terhadap kejadian diatas, yaitu perhatian Al-Hasan Al-Basri terhadap masalah-masalah yang halus, masalah zuhud, dan akhlak, sampai-sampai Al-Hasan Al-Basri mempunyai majelis khusus dalam majelisnya, yang mana ia tidak berbicara padanya melainkan makna-makna zuhud dan ibadah. Maka jika seseorang meminta untuk berbicara masalah lainnya karena merasa jemu, iapun berkata : "Sesungguhnya kita berkhalwat bersama-sama teman kami adalah untuk berdzikir" [Talbis Iblis karya Ibnul Jauzi hal 68]

Sesungguhnya sebagian besar dari nasehat dan wasiat Al-Hasan Al-Basri adalah tentang mencela dunia, dan larangan dari memanjangkan harapan, dan perintah untuk mensucikan jiwa, serta membetulkan tujuan-tujuan dan niat-niat.

Alangkah butuhnya kita kepada semisal nasehat-nasehat itu dan larangan-larangan dari para ulama, demikianlah para ulama terdahulu, para pemberi nasehat sebagaimana yang dikatakan Ibnul Jauzi. [Akhbar Al-Hasan Al-Basri, karya Ibnul Jauzi hal. 68]

Berkata Al-Imam Ahmad bin Hambal : "Alangkah butuhnya kita terhadap penasehat yang jujur" [Akhbar Al-Hasan Al-Basri]

Dan sungguh Al-Hasan Al-Bashri pada sebagian besar keadaannya bersikap zuhud terhadap dunia, memperingatkan dari dunia, menghasung untuk akhirat, dan inilah jalan kenabian yang berpengaruh, sungguh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Sesungguhnya sesuatu yang terbesar yang aku khawatirkan kepada kalian adalah apa yang dikeluarkan dari barakah bumi", ditanyakan : "Apakah barakah bumi itu ?", Beliau menjawab : "Bunga kehidupan dunia" [Kutipan dari hadits-hadits yang diriwayatkan Bukhari dalam kitab Raqaiq, bab sesuatu yang melarang dari bunga kehidupan manusia dan berlomba untuk dunia]

Oleh karena itu Al-Hasan Al-Basri berkata : "Demi Allah saya tidaklah ta'ajjub (heran) dengan sesuatu seperti keheranan saya kepada seseorang yang tidak menganggap bahwa cinta dunia itu termasuk salah satu dosa besar, demi Allah sesungguhnya cinta kepada dunia adalah termasuk dosa-dosa besar, tidaklah cabang-cabang dosa-dosa besar itu melainkan dengan sebab cinta dunia? Tidaklah berhala-berhala disembah, Allah Subhanahu wa Ta'ala didurhakai melainkan karena cinta dunia ? (ya). Maka seorang yang mengetahui tidak akan mengeluh dari kehinaan dunia, dan tidak akan berlomba-lomba mendekatinya dan tidak akan putus asa karena jauh terhadap dunia". [Hilyatul Aulia 6/13, dan lihat Siyar 'Alaamun An-Nubala 7/259]

Benarlah ucapan Al-Hasan Al-Basri, sebagian dosa-dosa besar adalah tumbuh dari cinta dunia : mencuri, zina, dengki, berdusta, sombong, berbuat riya (ingin di puji) dan selainnya adalah lantaran cinta terhadap dunia, dan saling menerkam dunia, bahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menghabarkan dalam kitabNya yang mulia bahwasanya kekafiran dan pantasnya seseorang mendapatkan siksa adalah lantaran cinta dan mengutamakan dunia daripada akhirat, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang-orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya adzab yang besar. Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir" [An-Nahl : 106-107]

Disini terdapat catatan terakhir : "Bahwasanya sebagian orang yang bertaubat menjauhi kehidupan untuk beribadah, dalam hal ini ada komentar, dimana tidak dibenarkan bahwa setiap orang yang bertaubat harus menempuh jalan ini : yaitu memutuskan dan berlaku zuhud dari mengambil sebab-sebab kehidupan dunia yang diperbolehkan, maka itulah rahbaniyyah (peribadatan dengan memutus dunia) yang kita dilarang darinya.

Maha benar Allh yang berfirman.

"Artinya : Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi" [Al-Qashas : 77]

Karena sesungguhnya dari keistimewaan agama kita adalah berlaku lurus dan bersifat tengah

Tidak ada Rahbaniyyah dan juga tidak ada maadiyah (materialistis) dan hanyalah seorang muslim itu beribadah kepada Allah, berusaha dimuka bumi dengan beramal, artinya bekerja dengan hal yang pantas yang dapat mencukupi kebutuhannya, dan tidak menjadi beban bagi orang lain. Dan tidaklah dikenal dalam Islam memutuskan hidup hanya untuk beribadah saja melainkan setelah berlalu masa yang penuh keutamaan (masa para sahabat), sejak datangnya ajaran sufi yang berbuat bid'ah (amal yang tidak terdapat tuntunannya dari agama ini), dan telah diketahui sikap Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap tiga orang yang bertanya tentang ibadah Rasulullah, shalatnya, puasanya, menikahnya. Maka tatkala mereka diberitahu seolah-olah mereka memandang amal Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sedikit. Maka mereka berketetapan untuk menyelisihi amal-amal itu, maka berkata Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam.

"Artinya : Demi Allah sesungguhnya aku adalah manusia yang paling takut dan taqwa kepada Allah, akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan aku tidur, dan aku menikahi wanita-wanita, maka barangsiapa benci kepada sunnahku maka bukanlah termasuk golonganku" [Muttafaq 'alaihi]

Abu Nu'aim mengutip dalam kitab "Al-Hilyah" dengan sanadnya kepada Ibrahim bin Sulaiman Az-Zayyat, dimana ia berkata :

"Adalah kami berada disisi Sufyan Ats-Tsauri, lalu datanglah seorang wanita dan mengeluhkan anak laki-lakinya", wanita itu berkata : "Wahai Abu Abdullah saya mendatangimu agar engkau menasehatinya?", Maka Sufyan Ats-Tsauri berkata : "Ya, datangkan anakmu itu". Kemudian perempuan itu datang bersama anaknya, maka Sufyan Ats-Tsauri pun menasehati anak itu, setelah selesai berpalinglah anak itu pergi. Maka kembalillah wanita tadi sesudah beberapa waktu dan berkata : "Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan wahai Abu Abdullah (Sufyan Ats-Tsauri) dan ia pun menceritakan perilaku anaknya yang ia sukai setelah mendapat nasehat Sufyan Ats-Tsauri".

Setelah beberapa lama, datanglah kembali wanita itu dan berkata : "Wahai Abu Abdullah, annakku tidak pernah tidur dimalam hari, dan pada siang hari ia berpuasa, tidak makan dan tidak pula minum". Maka berkatalah Sufyan Ats-Tsauri : "Celaka anda, mengapa ia berbuat demikian ?", Wanita itu menjawab : "Untuk mencari hadits". Maka Sufyan Ats-Tsauri berkata : "Harapkanlah dirimu darinya pahala dari sisi Allah" [Hilyatul Aulia 4/65,66]

Sufyan Ats-Tsauri adalah salah seorang ulama terkemuka, dan seorang yang banyak menyuruh kebaikan, tidaklah ia takut celaan orang yang suka mencela dijalan Allah, hingga berkata salah seorang diantara mereka ; "Adalah saya keluar bersama Sufyan Ats-Tsauri, maka hampir-hampir lisannya tidak putus dari menyuruh kebaikan dan melarang dari kemungkaran baik ketika pergi atau pulang" [Hilayatul Aulia]

Sebagaimana ia adalah seorang yang peduli dengan keadaan kaum muslimin, dan dari kisah tentang ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Yahya bin Yaman: Sufyan Ats-Tsauri dan Ibrahim bin Adham berbincang-bincang pada malam hari hingga subuh, adalah mereka berdua memperbincangkan masalah-masalah kaum muslimin.

Dan dalam kisah ini kita melihat bagusnya perangai wanita tadi dalam menyelesaikan problematika anaknya, ia pergi ke Sufyah Ats-Tsauri dan memaparkan masalah yang ia hadapi, dan meminta dari Sufyan Ats-Tsauri agar menasehati putranya. Dan kita telah membaca bagaimana Sufyan Ats-Tsauri menerima dengan cepat permintaan wanita itu, dan bagaimana baiknya perangai dan sikap tawadhunya, maka ia bersegera memenuhi permintaan itu dan menasehati anaknya, lalu perangai anak wanita itu menjadi baik, hingga datanglah wanita itu berterima kasih kepada Sufyan Ats-Tsauri atas perbuatan baiknya, dan tidak sampai disini saja hasil nasehat Sufyan Ats-Tsauri, bahkan anak itu bertambah keistiqomahan, akhlak serta perhatiannya dalam mencari ilmu dan hadits, yang menyebabkan wanita itu mengkisahkan keadaan anaknya pada kali ketiga, ia berkata : "Anakku tidak tidur pada malam hari dan ia berpuasa pada siang hari untuk mencari hadits".

Demikianlah nasehat itu berbekas dihati pemuda itu, hingga ia menjadi seorang yang bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu hadits.

Sebagaimana kita menyaksikan bagaimana wanita itu memantau terus keadaan putranya, dan mengkhabarkannya kepada Sufyan Ats-Tsuri, dan ia mendapat manfaat sesudah itu dengan pendapat dan nasehat Sufyan Ats-Tsauri.

Inilah fenomena yang mulia dari dakwah Salafush Shalih, dan dalam kitab-kitab yang menjelaskan biografi salafush shalih banyak dijumpai kisah-kisah yang indah (dalam kehidupan mereka), barangsiapa ingin mengambil contoh maka hendaklah mengambil contoh orang yang sudah meninggal dunia (para sahabat nabi), karena orang yang masih hidup tidak aman darinya fitnah.

[Majalah Ad-Dakwah Edisi 1863]

Saturday, November 18, 2006

Apakah Ideologi Diartikan Aqidah Jika Dilihat Dari Sudut Islam ?


SEKILAS MENGGALI IDEOLOGI DIHUBUNGKAN DENGAN AQIDAH DILIHAT DARI SUDUT ISLAM.


Dalam tulisan kali ini disajikan masalah yang menyangkut ideologi dihubungkan dengan aqidah dilihat dari kacamata Islam. Agar supaya pembicaraan kita ini tidak meluas ke segala penjuru, maka disini perlu ada pemagaran, yaitu melalui batasan-batasan yang diformulasikan kedalam bentuk pertanyaan yang bentuknya adalah apakah ideologi itu adalah aqidah kalau dilihat dari sudut pandang Islam?

Nah, dengan adanya formulasi pertanyaan diatas, kita akan mudah untuk berjalan menuju kearah tujuan guna mendapatkan jawabannya.

Sekarang kita mulai menggali apa yang disebut dengan panggilan atau penamaan ideologi itu.

Pertama kita bertanya, apa arti ideologi itu?

Nah, jawabannya adalah pengertian ideologi adalah rancangan yang tersusun didalam pikiran atau gagasan atau cita-cita yang membentuk dasar bangunan misalnya dalam teori politik atau ekonomi atau sosial kalau mengikuti apa yang tertuang dalam The Oxford guide to the English language. Atau dengan kata lain pengertian ideologi adalah kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup kalau mengikuti apa yang tertuang dalam kamus besar bahasa Indonesia.

Nah sekarang, dengan membaca dan menggali pengertian yang terkandung dalam istilah atau kata ideologi, maka kita sudah dapat mengambil poin-poin atau butiran-butiran yang ada dan terkandung dalam istilah ideologi itu, yaitu ideologi didalamnya mengandung pertama, rancangan yang tersusun dalam pikiran, atau gagasan-gagasan, atau cita-cita. Kedua, bangunan atau asas atau dasar teori. Ketiga, pemberi arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup.

Jadi, lahirnya ideologi itu adalah karena adanya hasil pemikiran manusia yang dituangkan dalam bentuk konsep bersistem yang menjadi dasar atau asas teori yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup manusia.

Nah sekarang, kita telah menemukan inti utama dari ideologi yaitu ideologi adalah hasil pemikiran manusia.

Selanjutnya, karena kita akan mencari hubungan dan kaitan antara ideologi dengan aqidah, maka kita perlu menggali apa yang dimaksud atau diartikan dengan aqidah itu.

Nah, pengertian aqidah adalah kepercayaan atau keyakinan. Dilihat dari sudut Islam maka ditemukan bahwa aqidah yang dimaksud dalam Islam adalah kepercayaan atau keyakinan kepada Islam sebagai agama yang diturunkan oleh Allah SWT melalui Rasul-Nya Muhammad saw.

Jadi, aqidah atau kepercayaan atau keyakinan ini menurut kacamata Islam adalah bukan lahir dari hasil pemikiran manusia, melainkan lahir karena Islam yang diturunkan oleh Allah SWT.

Nah sekarang, dapat kita mengambil poin-poin yang berbeda antara ideologi dan aqidah yaitu ideologi lahir karena hasil pemikiran manusia, sedangkan aqidah lahir karena Islam yang diturunkan oleh Allah SWT.

Jadi dapat kita menyimpulkan sekarang yaitu ideologi adalah buatan manusia, sedangkan aqidah lahir karena Allah SWT.

Nah disinilah sekarang kita sudah dapat memperoleh gambaran yang jelas bahwa ideologi adalah tidak sama dengan aqidah. Karena itu kalau ada orang yang menulis bahwa persaudaraan atau kekeluargaan itu adalah didasarkan pada "ideologi atau aqidah", maka penggunaan kata ideologi sama dengan istilah aqidah adalah tidak benar dan tidak tepat dalam penggunaannya. Mengapa ?

Karena kalau kekeluargaan atau persaudaraan didasarkan kepada ideologi, maka akan lahir pengertian persaudaraan dibawah bendera ideologi sosialisme atau persaudaraan dibawah bendera ideologi pancasila atau kekeluargaan dibawah bangunan ideologi kapitalisme.

Begitu juga kalau istilah aqidah diterapkan dalam kekeluargaan atau persaudaraan, maka akan ditemukan kekeluargaan atau persaudaraan berdasarkan aqidah Islam.

Nah, sekarang kalau kita hubungkan istilah ideologi dan aqidah ini dengan Sahih Muslim: 614 yang didalamnya menyinggung kata-kata "Allahumma shalli 'alaa Muhammad wa 'alaa aali Muhammad", maka yang dinamakan dengan "aali Muhammad" atau "ahli keluarga Muhammad" adalah semua umat Islam yang memiliki aqidah Islam atau kepercayaan atau keyakinan kepada Islam.

Jadi, yang namanya "aali Muhammad" atau "ahli keluarga Muhammad" adalah makin luas, bukan hanya keluarga Nabi Muhammad yang diikat dengan perkawinan dan darah saja, melainkan seluruh maum muslimin dan muslimat yang memiliki aqidah Islam.

Kemudian, kalau juga "aali Muhammad" atau "ahli keluarga Muhammad" dihubungkan dengan istilah ideologi, maka akan lahir "ahli keluarga Muhammad" adalah orang-orang yang memiliki ideologi Islam, yaitu orang-orang yang mendasarkan konsepsi pikirannya kepada Islam bukan hanya orang-orang yang ada hubungannya dengan tali perkawinan atau turunan darah dengan Nabi Muhammad saw saja.

Jadi sekarang dapat diambil kesimpulan yaitu kalau pengertian ideologi dan aqidah dijadikan sebagai dasar acuan untuk mengerti dan memahami bangunan kata kata "aali Muhammad" atau "ahli keluarga Muhammad", maka akan ditemukan bahwa anggota keluarga Rasulullah saw adalah semua umat Islam yang beraqidah Islam dan semua umat Islam yang memiliki ideologi Islam, bukan hanya sekedar keluarga yang diikat oleh tali perkawinan dan darah keturunan dengan Rasulullah saw saja.

Terakhir, dengan berdasarkan pada apa yang dijelaskan diatas, maka sekarang kita sudah dapat memberikan jawaban atas pertanyaan apakah ideologi itu adalah aqidah kalau dilihat dari sudut pandang Islam?

Maka jawabannya yaitu ideologi adalah tidak sama dengan aqidah. Ideologi adalah hasil pemikiran manusia yang dituangkan dalam bentuk konsep bersistem yang menjadi dasar atau asas teori yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup manusia. Sedangkan aqidah adalah bukan lahir dari hasil pemikiran manusia, melainkan lahir karena Islam yang diturunkan oleh Allah SWT. Kemudian kalau ideologi dan aqidah dihubungkan dengan "aali Muhammad" atau "ahli keluarga Muhammad", maka anggota keluarga Rasulullah saw adalah semua umat Islam yang beraqidah Islam dan semua umat Islam yang memiliki ideologi Islam, bukan hanya sekedar keluarga yang diikat oleh tali perkawinan dan darah keturunan Rasulullah saw saja.

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Thanks,

A.S

Tuesday, November 14, 2006

Mesjid Tua Kota Intan


temaram lampu itu selalu terindukan
mesjid tua dengan riasan baru beberapa tahun lalu
berlari-lari di luasnya halaman saat kecil ku
di antara daun-daun yang berguguran
dan belaian angin pagi yang mendinginkan suasana

masih berdiri tegak bangunan putih kecil
tempat soekarno berpidato
di mesjid tua
di tengah kota kecil
di kota intan

mesjid tua ini
akan selalu menjadi bagian tak terlupakan
bagi setiap pengunjungnya




---------------------------
keterangan foto :

Mesjid Agung Garut
Jawa Barat - Indonesia

tgl pengambilan :
23 September 2006
---------------------------

Thursday, November 09, 2006

Rumaisha binti Milhan


Beliau bernama Rumaisha, Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin ′Ady bin Najjar al-Anshariyyah al-Khazrajiyyah.

Beliau adalah seorang wanita yang memiliki sifat keibuan dan cantik, dirinya dihiasi pula dengan ketabahan, kebijaksanan, lurus pemikirannya, dan dihiasi pula dengan kecerdasan berfikir dan kefasihan serta berakhlak mulia, sehingga nantinya cerita yang baik ditujukan kepada beliau dan setiap lisan memuji atasnya. Karena beliau memiliki sifat yang agung tersebut sehingga mendorong putra pamannya yang bernama Malik bin Nadlar untuk segera menikahinya. Dari hasil pernikahannya ini lahirlah Anas bin Malik, salah seorang shahabat yang agung.

Tatkala cahaya nubuwwah mulai terbit dan dakwah tauhid muncul sehingga menyebabkan orang-orang yang berakal sehat dan memiliki fitrah yang lurus untuk bersegera masuk Islam.

Ummu Sulaim termasuk golongan pertama yang masuk Islam awal-awal dari golongan Anshar. Beliau tidak mempedulikan segala kemungkinan yang akan menimpanya didalam masyarakat jahiliyah penyembah berhala yang telah beliau buang tanpa ragu.

Adapun halangan pertama yang harus beliau hadapi adalah kemarahan Malik suaminya yang baru saja pulang dari bepergian dan mendapati istrinya telah masuk Islam. Malik berkata dengan kemarahan yang memuncak, "Apakah engkau murtad dari agamamu?". Maka enggan penuh yakin dan tegar beliau menjawab: "Tidak, bahkan aku telah beriman".

Suatu ketika beliau menuntun Anas (putra beliau) sembari mengatakan: "Katakanlah La ilaha illallah. (Tidak ada ilah yang haq kecuali Allah)". Katakanlah, "Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah". (aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah) kemudian Anas mau menirukannya. Akan tetapi ayah Anas mengatakan, "Janganlah engkau merusak anakku". Maka beliau menjawab: "Aku tidak merusaknya akan tetapi aku mendidik dan memperbaikinya".

Perasaan gengsi dengan dosa-dosa menyebabkan Malik bin Nadlar menentukan sikap terhadap istrinya yang -menurutnya- keras kepala dan tetap ngotot berpegang kepada akidah yang baru, maka Malik tidak memiliki alternatif lain selain memberi khabar kepada istrinya bahwa dia akan pergi dari rumah dan tidak akan kembali hingga istrinya mau kembali kepada agama nenek moyangnya.

Manakala Malik mendengar istrinya dengan tekad yang kuat karena teguh terhadap pendiriannya mengulang-ulang kalimat "Ashadu an la ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah", maka Malik pergi dari rumah dalam keadaan marah dan kemudian bertemu dengan musuh sehingga akhirnya dia dibunuh.

Ketika Ummu Sulaim mengetahui bahwa suaminya telah terbunuh, beliau tetap tabah mengatakan: "Aku tidak akan menyampih Anas sehingga dia sendiri yang memutusnya, dan aku tidak akan menikah sehingga Anas menyuruhku".

Kemudian Ummu Anas menemui Rasulullah yang dicintai dengan rasa malu kemudian beliau mengajukan agar buah hatinya, Anas dijadikan pembantu oleh guru manusia yang mengajarkan segala kebaikan. Rasulullah menerimanya sehingga sejuklah pandangan Ummu Sulaim karenanya.

Kemudian orang-orang banyak membicarakan Anas bin Malik dan juga ibunya dengan penuh takjub dan bangga. Begitu pula Abu Thalhah mendengar kabar tersebut sehingga menjadikan hatinya cenderung cinta dan takjub. Kemudian dia beranikan diri melamar Ummu Sulaim dan menyediakan baginya mahar yang tinggi. Akan tetapi, tiba-tiba saja pikirannya menjadi kacau dan lisannya menjadi kelu tatkala Ummu Sulaim menolak dengan wibawa dan penuh percaya diri dengan berkata: "Sesungguhnya tidak pantas bagiku menikah dengan orang musyrik. Ketahuilah wahai Abu Thalhah bahwa tuhan-tuhan kalian adalah hasil pahatan orang dari keluarga fulan, dan sesungguhnya seandainya kalian mau membakarnya maka akan terbakarlah tuhan kalian".

Abu Thalhah merasa sesak dadanya, kemudian dia berpaling sedangkan dirinya seolah-olah tidak percaya dengan apa yang telah dia lihat dan dia dengar. Akan tetapi cintanya yang tulus mendorong dia kembali pada hari berikutnya dengan membawa mahar yang lebih banyak, roti maupun susu dengan harapan Ummu Sulaim akan luluh dan menerimanya.

Akan tetapi Ummu Sulaim adalah seorang da′iyah yang cerdik yang tatkala melihat dunia menari-nari dihadapannya berupa harta, kedudukan dan laki-laki yang masih muda, dia merasakan bahwa keterikatan hatinya dengan Islam lebih kuat dari pada seluruh kenikmatan dunia. Beliau berkata dengan sopan: "Orang seperti anda memang tidak pantas ditolak, wahai Abu Thalhah, hanya saja engkau adalah orang kafir sedangkan saya adalah seorang muslimah sehingga tidak baik bagiku menerima lamarnmu". Abu Thalhah bertanya: "lantas apa yang anda inginkan?", beliau balik bertanya: "Apa yang saya inginkan?". Abu Thalhah bertanya: "apakah anda menginginkan emas atau perak". Ummu Sulaim berkata: "Sesungguhnya aku tidak menginginkan emas ataupun perak akan tetapi saya menginginkan agar anda masuk Islam"."Kepada siapa saya harus datang untuk masuk Islam?", tanya Abu Thalhah. Beliau berkata: "Datanglah kepada Rasulullah untuk itu!". Maka pergilah Abu Thalhah untuk menemui Nabi yang tatkala itu sedang duduk-duduk bersama para sahabat. Demi melihat kedatangan Abu Thalhah, Rasulullah bersabda: "Telah datang kepada kaliaan Abu Thalhah sedang sudah tampak cahaya Islam dikedua matanya".

Selanjutnya Abu Thalhah menceritakan kepada Nabi tentang apa yang dikatakan oleh Ummu Sulaim, maka da menikahi Ummu Sulaim dengan mahar keislamannya. Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Ummu sulaim berkata: "Demi Allah! orang yang seperti anda tidak pantas untuk ditolak, hannya saja engkau adalah orang kafir sedangkan aku adalah seorang muslimah sehingga tidak halal untuk menikah denganmu. Jika kamu mau masuk Islam maka itulah mahar bagiku dan aku tidak meminta yang selain dari itu".

Sungguh ungkapan tersebut mampu menyentuh perasaan yang paling dalam dan mengisi hati Abu Thalhah, "sungguh Ummu Sulaim telah bercokol di hatinya secara sempurna, dia bukanlah seorang wanita yang suka bermain-main dan takluk dengan rayuan-rayuan kemewahan, sesungguhnya dia adalah wanita cerdas, dan apakah dia akan mendapatkan yang lebih baik darinya untuk diperistri, atau ibu bagi anak-anaknya?".

Tanpa terAsa lisan Abu Thalhah mengulang-ulang: "Aku berada diatas apa yang kamu yakini, aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi Muhammad adalah utusan Allah".

Ummu Sulaim lalu menoleh kepada putranya, Anas dan beliau berkata dengan suka cita karena hidayah Allah yang diberikan kepada Abu Thalhah melalui tangannya: "Wahai Anas! Nikahkanlah aku dengan Abu thalhah". Kemudian beliaupun dinikahkan dengan Islam sebagai mahar.

Oleh karena itulah Tsabit meriwayatkan hadits dari Anas : "Aku belum pernah mendengar seorang wanitapun yang paling mulia maharnya dari Ummu Sulaim karena maharnya adalah Islam".

Ummu Sulaim hidup bersama Abu Thalhah dengan kehidupan suami-istri yang diisi dengan nilai-nilai Islam yang menaungi bagi kehidupan suami istri, dengan kehidupan yang tenang dan penuh kebahagiaan.

Ummu Sulaim adalah profil seorang istri yang menunaikan hak-hak suami isteri dengan sebaik-baiknya, sebagaimana juga contoh terbaik sebagai seorang ibu, seorang pendidik yang utama dan seorang da′iyah.

Begitulah Abu Thalhah mulai memasuki madrasah imaniyah melalui istrinya yang utama yakni Ummu Sulaim sehingga pada gilirannya beliau minum dari mata air nubuwwah hingga menjadi setara dalam hal kemuliaan dengan Ummu Sulaim.

Marilah kita dengarkan penuturan Anas bin Malik yang menceritakan kepada kita bagaimana perlakuan Abu Thalhah terhadap kitabullah dan komitmennya terhadap al-Qur′an sebagai landasan dan kepribadian. Anas bin Malik berkata : "Abu Thalhah adalah orang yang paling kaya di kalangan Anshar Madinah, adapun harta yang paling disukainya adalah kebun yang berada di masjid, yang biasanya Rasulullah masuk ke dalamnya dan minum air jernih didalamnya". Tatkala turun ayat : "Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu nafkahkan sebagian harta yang kamu cintai". (Q.S. Ali ′Imran: 92).

Seketika Abu Thalhah berdiri menghadap Rasulullah dan berkata: "Sesungguhnya Allah telah berfirman di dalam kitab-Nya (yang artinya),Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan sesungguhnya harta yang paling aku sukai adalah kebunku, untuk itu aku sedekahkan ia untuk Allah dengan harapan mendapatkan kebaikan dan simpanan di sisi Allah, maka pergunakanlah sesuka kamu, wahai Rasulullah".

Rasulullah bersabda : "Bagus..bagus.. itulah harta yang menguntungkan. Itulah harta yang paling menguntungkan..aku telah mendengar apa yang kamu katakan dan aku memutuskan agar engkau sedekahkan kepada kerabat-kerabatmu".

Maka Abu Thalhah membagi-bagikannya kepada sanak kerabat dan anak-anak dari pamannya.

Allah memuliakan kedua suami-istri ini dengan seorang anak laki-laki sehingga keduanya sangat bergembira dan anak tersebut menjadi penyejuk pandangan bagi keduanya dengan pergaulannya dan tingkah lakunya. Anak tersebut diberi nama Abu Umair. Suatu ketika anak tersebut bermain-main dengan seekor burung lalu burung tersebut mati. Hal itu menjadikan anak tersebut bersedih dan menangis. Pada waktu itu, Rasulullah melewati dirinya maka beliau berkata kepada anak tersebut untuk menghibur dan bermain dengannya: "Wahai Abu Umair! Apa yang dilakukan oleh anak burung pipit itu?".

Allah berkehendak untuk menguji keduanya dengan keduanya dengan seorang anak yang cakap dan dicintai, suatu ketika Abu Umair sakit sehingga kedua orang tuanya disibukkan olehnya. Sudah menjadi kebiasaan bagi ayahnya apabila kembali dari pasar, pertama kali yang dia kerjakan setelah mengucapkan salam adalah bertanya tentang kesehatan anaknya, dan beliau belum merasa tenang sebelum melihat anaknya.

Suatu ketika Abu Thalhah keluar ke masjid dan bersamaan dengan itu anaknya meninggal. Maka ibu Mu′minah yang sabar ini menghadapi musibah tersebut dengan jiwa yang ridla dan baik. Sang ibu membaringkannya ditempat tidur sambil senantiasa mengulangi kalimat: "Inna lillahi wa inna ilahi raji′un". Beliau berpesan kepada anggota keluarganya: "Janganlah kalian menceritakan kepada Abu Thalha hingga aku sendiri yang menceritakan kepadanya".

Ketika Abu Thalhah kembali, Ummu Sulaim mengusap air mata kasih sayangnya, kemudian dengan bersemangat menyambut suaminya dan menjawab pertanyaannya seperti biasanya: "Apa yang dilakukan oleh anakku?". Beliau menjawab: "dia dalam keadaan tenang".

Abu Thalhah mengira bahwa anaknya sudah dalam keadaan sehat, sehingga Abu Thalhah bergembira dengan ketenangan dan kesehatannya, dan dia tidak mau mendekat karena khawatir mengganggu ketenangannya. Kemudian Ummu Sulaim mendekati beliau dan mempersiapkan malam baginya, lalu beliau makan dan minum sementara Ummu Sulaim bersolek dengan dandanan lebih cantik daripada hari-hari sebelumnya, beliau mengenakan baju yang paling bagus, berdandan dan memakai wangi-wangian, kemudian keduanyapun berbuat sebagai mana layaknya suami istri.

Tatkala Ummu Sulaim melihat bahwa suaminya sudah kenyang dan mencampurinya serta merasa tenang dengan keadaan anaknya maka beliau memuji Allah karena tidak membuat risau suaminya dan beliau biarkan suaminya terlelap dalam tidurnya.

Tatkala diakhir malam beliau berkata kepada suaminya: "Wahai Abu Thalhah! bagaimana pendapatmu seandainya suatu kaum menitipkan barangnya kepada suatu keluarga kemudian suatu ketika mereka mengambil titipannya tersebut, maka bolehkah bagi keluarga tersebut untuk menolaknya?". Abu Thalhah menjawab: "Tentu saja tidak boleh". Kemudian Ummu Sulaim berkata lagi: "Bagaimana pendapatmu jika keluarga tersebut berkeberatan tatkala titipannya diambil setelah dia sudah dapat memanfaatkannya?". Abu Thalhah berkata: "Berarti mereka tidak adil". Ummu Sulaim berkata: "Sesunggguhnya anakmu titipan dari Allah dan Allah telah mengambilnya, maka tabahkanlah hatimu dengan meninggalnya anakmu".

Abu Thalhah tidak kuasa menahan amarahnya, maka beliau berkata dengan marah: "kau biarkan aku dalam keadaan seperti ini baru kamu kabari tentang anakku?".

Beliau ulang-ulang kata-kata tersebut hingga beliau mengucapkan kalimat istirja′ (Inna lillahi wa inna ilahi raji′un) lalu bertahmid kepada Allah sehingga berangsur-angsur jiwanya menjadi tenang.

Keesokan harinnya beliau pergi menghadap Rasulullah dan mengabarkan kapada Rasulullah tentang apa yang terjadi, kemudian Rasulullah bersabda: "Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua". Mulai hari itulah Ummu Sulaim mengandung seorang anak yang akhirnya diberi nama Abdullah. Tatkala Ummu Sulaim melahirkan, beliau utus Anas bin Malik untuk membawanya kepada Rasulullah selanjutnya Anas berkata: "Wahai Rasulullah, bahwasanya Ummu Sulaim melahirkan tadi malam". Maka Rasulullah mengunyah kurma dan mentahnik bayi tersebut (menggosokan kurma yang telah dikunyah ke langit-langit mulut si bayi). Anas berkata: "Berilah nama baginya, wahai Rasulullah!". Beliau bersabda: "namanya Abdullah" .

Ubbabah, salah seorang rijal sanad berkata: "Aku melihat dia memiliki tujuh anak yang kesemuanya hafal al-Qur`an". Diantara kejadian yang mengesankan pada diri wanita yang utama dan juga suaminya yang mukmin adalah bahwa Allah menurunkan ayat tentang mereka berdua dimana umat manusia dapat beribadah dengan membacanya. Abu Hurairah berkata: "Telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah" dan berkata: "Sesungguhnya aku dalam keadaan lapar". Maka Rasulullah menanyakan kepada salah satu istrinya tentang makanan yang ada dirumahnya, namun beliau menjawab: "Demi Dzat Yang mengutusmu dengan haq, aku tidak memiliki apa-apa kecuali hanya air, kemudian beliau bertanya kepada istri yang lain, namun jawabannya tidak berbeda. Seluruhnya menjawab dengan jawaban yang sama". Kemudian Rasulullah bersabda: "Siapakah yang akan menjamu tamu ini, semoga Allah merahmatinya". Maka berdirilah salah seorang Anshar yang namanya Abu Thalhah seraya berkata: "Saya wahai Rasulullah". Maka dia pergi bersama tamu tadi menuju rumahnya kemudian sahabat Anshar tersebut bertanya kepada istrinya (Ummu Sulaim): "Apakah kamu memiliki makanan?". Istrinya menjawab: "Tidak punya melainkan makanan untuk anak-anak." Abu Thalhah berkata: "Berikanlah minuman kepada mereka dan tidurkanlah mereka. Nanti apabila tamu saya masuk maka akan saya perlihatkan bahwa saya ikut makan, apabila makanan sudah berada di tangan maka berdirilah. Mereka duduk-duduk dan tamu makan hidangan tersebut sementara kedua suami-istri tersebut bermalam dalam keadaan tidak makan. Keesokan harinya keduanya datang kepada Rasulullah lalu Rasulullah bersabda: "Sungguh Allah takjub (atau tertawa) terhadap fulan dan fulanah". Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda:

"Sungguh Allah takjub terhadap apa yang kalian berdua lakukan terhadap tamu kalian".

Di akhir hadits disebutkan: Maka turunlah ayat (artinya): "Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)". (Q.S. al-Hasyr:9).

Abu Thalhah tidak kuasa menahan rasa gembiranya, maka beliau bersegera memberikan khabar gembira tersebut kepada istrinya sehingga sejuklah pandangan matanya karena Allah menurunkan ayat tentang mereka dalam al-Qur`an yang senantiasa dibaca.

Ummu Sulaim tidak hanya cukup menunaikan tugasnya untuk mendakwahkan Islam dengan penjelasan saja, bahkan beliau antusias untuk turut andil dalam berjihad bersama pahlawan kaum muslimin. Tatkala perang Hunain tampak sekali sikap kepahlawanannya dalam memompa semangat pada dada mujahidin dan mengobati mereka yang luka. Bahkan beliau juga mempersiapkan diri untuk melawan dan menghadapi musuh yang akan menyerangnya. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam shahihnya dan Ibnu Sa′ad di dalam Thabaqat dengan sanad yang shahih bahwa Ummu Sulaim membawa badik (pisau) pada perang Hunain kemudian Abu Thalhah berkata: "Wahai Rasulullah!" ini Ummu Sulaim berkata: "Wahai Rasulullah apabila ada orang musyrik yang mendekatimu maka akan robek perutnya dengan badik ini".

Anas berkata: "Rasulullah berperang bersama Ummu Sulaim dan para Wanita dari kalangan Anshar, apabila berperang, para wanita tersebut memberikan minum kepada mujahidin dan mengobati yang luka".

Begitulah Ummu Sulaim memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Rasulullah, beliau tidak pernah masuk rumah selain rumah Ummu Sulaim bahkan Rasulullah telah memberi kabar gembira bahwa beliau termasuk ahli surga. Beliau bersabda : "Aku masuk ke surga", tiba-tiba mendengar sebuah suara, maka aku bertanya: "Siapa itu?". Mereka berkata: "Dia adalah Rumaisha′ binti Malhan ibu dari Anas bin Malik".

Selamat untukmu wahai Ummu Sulaim, karena anda memang sudah layak mendapatkan itu semua, engkau adalah seorang istri shalihah yang suka menasehati, seorang da′iyah yang bijaksana, seorang pendidik yang sadar sehingga memasukkan anaknya ke dalam madrasah nubuwwah tatkala berumur sepuluh tahun yang pada gilirannya beliau menjadi seorang ulama diantara ulama Islam, selamat untukmu..selamat untukmu

(Diambil dari buku Mengenal Shahabiah Nabi shallallahu ′alaihi wa sallam dengan sedikit perubahan, penerbit Pustaka AT-TIBYAN, Hal. 204)
 

Sample text

Sample Text

Sample Text