Pages

Ads 468x60px

Friday, November 03, 2006

Ibuku Perkasa, Pencari Nafkah


Saya trenyuh melihatnya menggendong barang dagangan sedemikian banyak.
Bakul, tampah, kipas, aseupan semua barang terikat selembar kain panjang lusuh. Berjejalan membebani punggung.

Perniagaannya dimulai selepas subuh. Perjalanan yang kerap menaiki mobil bak terbuka yang ringkih, namun acapkali juga ditempuh dengan meretas jalan menurun dan mendaki selama dua jam untuk tiba di tempat tujuan. Transaksi dicari dengan cara berjalan dari satu rumah ke rumah yang lain, dari satu desa melewati desa berikutnya. Tawar menawar yang ketat dari pembeli hanya menghasilkan laba dua ribu rupiah per-item barang. Tak jarang malah hanya dijual modal saja, daripada dibawa pulang kembali akan sangat berat dan repot ujarnya.

Selepas dzuhur, dia akan kembali ke rumah. Menjalani tugas berikutnya Sebagai seorang ibu dari tujuh orang anak. Suaminya sendiri bekerja sebagai penjaga kebun dan bercocok tanam pada ladang seadanya.

Kedatangannya di rumah saya rutin pada pukul 11 siang. Tanpa bosan dia menjajakan barang dagangannya. Ada beberapa yang kami beli. Namun sayangnya, kami tidak membutuhkan untuk membeli barang tersebut setiap hari. Akan tetapi kami kadang mengharapkan kedatangannya. Paling tidak dia bisa mengaso di rumah kami. Merasakan semilir angin untuk mendinginkan badan yang tersengat terik.

Segelas teh manis dan dan sedikit kue (jika ada) menemaninya melepas lelah.
Kemudian, ibu saya akan menghidangkan sepiring nasi dengan lauk yang kami punya hari itu. Kami semua memintanya untuk tidak sungkan datang.
Mudah-mudahan kami bisa menyuguhkan jamuan itu setiap kali dia ada. Kasihan jika laba yang tak seberapa harus berkurang lagi untuk biaya makan.

Setelah beberapa minggu tidak muncul dikarenakan sakit, kali ini beliau datang seperti biasanya. Untunglah nasi dan lauk sudah matang. Segelas minum dan sepiring nasi hangat usai dinikmatinya. Sebelum beranjak pergi dia memaksa kami untuk menerima bakul dagangannya sebagai tanda terima kasih. Saya menolak dengan halus, sungguh kami belum membutuhkan itu.

"Kalau begitu tampah saja ya, ambil Neng,?Ebeliau masih memaksa "Nggak usah Bu, terima kasih. Nanti kalau kami butuhkan, saya akan bilang ke Ibu.
Jangan sungkan-sungkan, ibu mampir ya kalau sedang lewat ke sini.?E Dengan rasa segan yang tertahan dia kembali melanjutkan perjalanannya.
Tumpukan barang yang menggunung di pungung mengharuskan dia untuk berkeliling lebih jauh.

Saya hanya hendak bercermin dan memaksa hati agar bisa belajar dari setiap peran yang dijalani seorang wanita dari berbagai peran. Yaitu sosok wanita yang menjalani profesi sebagai ibu sekaligus pengemban tanggung jawab strategis sebagai pencari nafkah.

Ibu itu sungguh perkasa. Berkeliling dalam segala cuaca. Ruang kerjanya adalah alam bebas yang tidak bisa disetel berapa derajat suhu yang diinginkannya. Perjalanan berkilo-kilo itu ditempuh tanpa tahu pasti berapa banyak nilai rupiah yang akan dibawa pulang.

Kini, bandingkan dengan kita yang bekerja di dalam ruangan berpendingin.
Kulit kita jarang tersentuh sengatan matahari. Kita tidak harus berjalan berkilo-kilo untuk mendapat gaji yang sudah pasti nilainya. Walaupun besaran penghasilan kita tidak sama, sebagian besar dari kita masih mendapatkan tunjangan makan, tunjangan pengobatan dan kenikmatan lain yang nyaris tidak dimiliki oleh para pedagang kecil yang berkeliling itu.

Mungkin benar, tidaklah adil jika saya membandingkan dengan sosok ibu tersebut. Latar pendidikan kita berbeda, tingkat keterampilannya pun berbeda. Namun, jika selama ini gelisah dan rasa kurang sering menyergap, ke manakah perginya rasa syukur ini?
Ibu Perkasa Pencari Nafkah

Oleh Indah Prihanande

Koshiba, peraih Nobel Fisika yang nilai fisikanya jelek


Masatoshi Koshiba lahir di kota Toyohashi, Jepang, pada tanggal 19 September 1926. Waktu remaja Koshiba bercita-cita untuk bergabung dengan sekolah militer (mengikuti jejak ayahnya), atau menjadi seorang musisi (ia senang mendengarkan musik klasik dan membaca novel-novel bersejarah). Tetapi satu bulan sebelum ia mengikuti ujian masuk sekolah militer Koshiba terserang penyakit polio yang memaksanya untuk banyak berbaring dan beristirahat. Masa-masa pemulihannya dilalui dengan membaca buku tentang ide-ide besar fisikawan terkenal, Albert Einstein, yang diberikan oleh gurunya. Tetapi keputusannya untuk mendalami fisika justru dipicu oleh kata-kata guru lain yang tidak sengaja didengarnya. Menurut guru itu, Koshiba tidak mungkin bisa mempelajari dan memahami fisika karena nilai-nilainya di mata pelajaran fisika dan matematika itu sangat buruk. Komentar ini menempatkan Koshiba pada kondisi kritis. Dalam kondisi kritis ini terjadilah mestakung (seMESTA menduKUNG) dimana sel-sel dalam tubuhnya bereaksi, hatinya mulai panas dan motivasinya bangkit. Koshiba nekat memilih jurusan fisika di Tokyo University. Ia mau membuktikan pada gurunya bahwa ia mampu menguasai fisika!

Saat pertama kali ia mendaftar di Tokyo University, Koshiba ditolak. Apakah Koshiba menyerah? Tidak! Keinginan untuk melepaskan diri dari "penghinaan" sang guru membuatnya berusaha lebih keras lagi. Dan lihatlah….mestakung terjadi lagi. Usahanya yang pantang menyerah itu pun membuahkan hasil. Koshiba akhirnya diterima di Tokyo University yang merupakan universitas yang sangat bergengsi di Jepang. Kuliah di Tokyo University bukan tanpa tantangan. Koshiba bukan orang kaya, ia harus mencari uang untuk biaya sekolahnya. Ia juga harus membantu orang tuanya. Apakah tantangan ini membuat Koshiba menyerah? Tidak! Kembali terjadi mestakung = semesta mendukung, secara ajaib ia bisa mendapat pekerjaan dimana ia bisa belajar sambil bekerja. Banyak orang berpikir bahwa dengan kondisi belajar Koshiba seperti itu ia tidak akan lulus, namun nyatanya Koshiba berhasil lulus (1951).

Koshiba kemudian mendaftarkan diri ke University of Rochester, Amerika Serikat, dengan berbekal surat rekomendasi dari dosennya di Tokyo University yang secara jujur menyatakan: His results are not good, but he´s not that stupid. Secara ajaib -lagi-lagi mestakung-, ia bisa diterima di University of Rochester dan empat tahun kemudian Koshiba berhasil mendapatkan gelar Ph.D. Luar biasa!

Tidak sampai disitu saja, secara ajaib juga >>mestakung lagi<< pemerintah Jepang mendukung Koshiba untuk melakukan penelitian di bidang neutrino dengan membangun sebuah detektor Kamiokande yang sangat mahal. Melalui detektor ini Koshiba berhasil menemukan neutrino yang membawanya meraih hadiah Nobel Fisika 2002. Koshiba akhirnya bisa menunjukkan pada gurunya bahwa ia mampu belajar fisika! Luar biasa, kalau kita tetap pada sasaran, mestakung akan bekerja memberikan kita hasil-hasil yang luar biasa!

perjalanan harus di mulai

akhirnya blog baru harus juga dibuat. dengan alamat yang baru dan tampilan yang baru serta tema yang baru pula. blog lama ku http://adisatra.blogspot.com sekarang dah gak bisa diakses lagi dan serta isinya terancam lenyap karena blog ku dianggap spam :( .katanya sih masih bisa di-recovery jika aku segera membersihkan spamnya.. wah kagak ngarti ngebenerinnya #makanya sejak bulan oktober aku dah gak bisa nulis lagi di blog# tapi gak apalah.. yang penting sekarang dah ada. dan coba nulis lagi sebisa-bisanya
 

Sample text

Sample Text

Sample Text